DaerahNewsSeni Budaya

Ritual Tutung Padu di Situs 7 Maret, Pesan Persatuan Leluhur untuk Pembangunan Lembata

15
×

Ritual Tutung Padu di Situs 7 Maret, Pesan Persatuan Leluhur untuk Pembangunan Lembata

Sebarkan artikel ini
Ritual Tutung Padu di Situs 7 Maret. (Foto: Istimewa).
Ritual Tutung Padu di Situs 7 Maret. (Foto: Istimewa).

Harian Warga – Sejarah perjuangan rakyat Lembata menyimpan pesan yang tetap relevan bagi pembangunan hari ini: perbedaan bukan alasan untuk terpecah, melainkan kekuatan untuk menghadapi persoalan bersama. Pesan itu kembali ditegaskan melalui ritual Tutung Padu atau Seru Padu di Rumah Situs 7 Maret 1954, Desa Hadakewa, Kecamatan Lebatukan, Kamis (08/10/2026).

Peringatan ini digelar dalam rangka menyongsong Hari Ulang Tahun ke-27 Kabupaten Lembata yang jatuh pada 12 Oktober 2026. Tidak sekadar mengenang peristiwa masa lalu, acara tersebut menjadi ruang refleksi tentang bagaimana semangat persatuan para leluhur harus diterjemahkan ke dalam tanggung jawab pemerintahan, kehidupan sosial, dan pembangunan yang berpihak pada masyarakat.

Bupati Lembata P. Kanisius Tuaq bersama Wakil Bupati H. Muhamad Nasir, Kepala Kejaksaan Negeri Lembata, Sekretaris Daerah Paskalis Ola Tapo Bali, serta perwakilan TNI/Polri hadir dalam rangkaian napak tilas dan renungan suci di situs bersejarah itu.

Baca Juga: Keuskupan Larantuka Tolak Proyek Geotermal di Flores Timur dan Lembata

Prosesi Tutung Padu dimulai di gerbang rumah situs. Bupati Lembata menyalakan obor dan menyerahkannya kepada perwakilan Hamente, Kakan, dan Kerajaan Lebala sebagai simbol semangat perjuangan masyarakat Lembata yang akan terus menyala. Acara dipandu budayawan Linus Beseng.

Linus menjelaskan, sejarah perjuangan masyarakat Lomblen kala itu melibatkan lima hamente dan satu kerajaan: Hamente Lewotolok, Hamente Kalikur, Hamente Kawela, Kakang Hadakewa, Kakan Lamalera, serta Raja Lebala. Mereka dipersatukan oleh tekad membebaskan masyarakat dari penindasan dan kemiskinan.

Pertanyaan yang muncul dari sejarah itu adalah bagaimana generasi kini menjaga persatuan ketika menghadapi tantangan pembangunan yang semakin kompleks.

Baca Juga: Sikap Kadin Patut Dipertanyakan, Aktivis Lingkungan Ramai-Ramai Soroti Izin PT Lestari Energi Timur

Pembangunan, kata Linus, tidak hanya membutuhkan anggaran dan infrastruktur, tetapi juga kepercayaan, solidaritas, serta kesediaan seluruh elemen masyarakat menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan kelompok.

Ritual Tutung Padu mengandung tiga pesan utama: bersyukur atas perlindungan selama setahun, memohon maaf atas kesalahan, serta memohon kesehatan dan kekuatan bagi para pemimpin agar dapat melayani masyarakat dengan baik. Nilai-nilai ini menyentuh dimensi moral kepemimpinan: kerendahan hati, pengakuan atas kekurangan, dan komitmen memperbaiki pelayanan publik.

Harapan masyarakat yang disampaikan melalui ritual itu sederhana namun mendasar: hidup sehat, kebutuhan terpenuhi, pendidikan yang baik bagi anak-anak, serta ketenangan di kampung halaman.

Baca Juga: Terobos Jalur Laut, Ketua DPD PSI Sikka Yanes Mekeng Bersama Tim Salurkan Bantuan Jokowi ke Desa Lidi

Pesan persatuan tersebut sejalan dengan semangat Taan Tou, yang menempatkan kebersamaan sebagai kekuatan menjaga dan membangun Lewotana. Persatuan bukan berarti meniadakan perbedaan, melainkan membangun kesediaan berdialog, saling menghormati, dan bekerja bersama demi kepentingan masyarakat Lembata.

Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan, dilakukan penanaman pohon di depan Rumah Situs 7 Maret 1954. Penanaman ini dimaknai sebagai simbol keteduhan dan kesejukan, sekaligus pengingat bahwa warisan sejarah harus dirawat sebagaimana lingkungan dan kehidupan masyarakat dijaga agar tetap lestari.

Peringatan tersebut juga dihadiri Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Lembata Ursula Surat Bayo, staf ahli TP PKK Nurmila Nasir, Ketua Dharma Wanita Persatuan Kabupaten Lembata Maria Anastasia Bara Baje, staf ahli bupati, para asisten, pimpinan perangkat daerah, aparatur sipil negara, tokoh masyarakat, camat, dan kepala desa Hadakewa.

Baca Juga: Femi Bapa Resmi Dilantik, Cetak Sejarah Perempuan Pertama Jadi Sekda Sikka

Situs 7 Maret 1954 bukan hanya tempat menoleh ke masa lalu, tetapi juga pengingat bahwa persatuan pernah menjadi kekuatan penting perjuangan masyarakat Lomblen. Tantangan generasi sekarang adalah menjaga nilai tersebut agar tidak berhenti sebagai warisan simbolis.

Semangat Taan Tou harus menjadi sikap hidup: bersatu dalam perbedaan, bergotong royong menghadapi kesulitan, dan menempatkan kepentingan masyarakat di atas kepentingan pribadi atau golongan. Lembata tidak akan dibangun oleh satu orang atau satu kelompok saja, melainkan oleh seluruh masyarakat yang bersedia berjalan bersama demi Lewotana.***

Respon (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *