Harian Warga – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) bergerak cepat mempercepat pemulihan fasilitas kesehatan setelah gempa kuat mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu, 15 Agustus 2026.
Pemerintah menargetkan rumah sakit daerah yang terdampak dapat kembali menjalankan pelayanan dasar paling lambat dalam waktu satu pekan.
Pemulihan diprioritaskan pada layanan yang paling dibutuhkan masyarakat pascabencana, terutama penanganan trauma, kesehatan ibu dan anak, serta pelayanan hemodialisa bagi pasien yang membutuhkan cuci darah.
Baca Juga: Kisah Gempita: Bayi yang Lahir di Tengah Gempa Sikka
Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes, Agus Jamaludin, menyebut RSUD Nagekeo menjadi perhatian utama karena mengalami kerusakan berat. Sebagai langkah darurat, Kemenkes menyiapkan pengiriman RS Mobil ke Nagekeo.
Fasilitas tersebut dilengkapi ruang operasi agar tindakan kegawatdaruratan tetap dapat dilakukan meski bangunan utama belum pulih.
Untuk mendukung sistem rujukan, RSUD Borong dan RSUD Komodo dipersiapkan menerima pasien dari Nagekeo apabila membutuhkan penanganan lebih lanjut.
Baca Juga: NTT Diguncang 686 Gempa Susulan, Ribuan Warga Mengungsi dan 47 Jiwa Meninggal
Berdasarkan pendataan sementara, terdapat 21 rumah sakit di delapan kabupaten/kota di NTT yang terdampak gempa. Dari jumlah tersebut, enam rumah sakit mengalami kerusakan ringan dan tiga lainnya rusak berat.
Meski demikian, 16 rumah sakit masih mampu menjalankan pelayanan penuh. Empat rumah sakit hanya beroperasi sebagian, sedangkan satu fasilitas kesehatan belum dapat memberikan layanan.
Kerusakan juga terjadi pada jaringan puskesmas. Dari total 190 puskesmas terdampak, sebanyak 122 masih beroperasi penuh, 49 beroperasi terbatas, dan 19 belum kembali melayani masyarakat.
Baca Juga: Bantuan Presiden Prabowo untuk Korban Gempa Sikka NTT
Tingkat kerusakan bervariasi, mulai dari 11 puskesmas rusak ringan, 37 rusak sedang, hingga 20 puskesmas rusak berat.
Kemenkes menargetkan seluruh puskesmas dapat kembali beroperasi dalam waktu dua pekan. Tahap awal difokuskan pada pelayanan yang berkaitan langsung dengan kebutuhan masyarakat pascabencana, seperti layanan ibu hamil, persalinan, dan imunisasi.
Langkah koordinasi diperkuat melalui pembentukan Health Emergency Operation Center (HEOC). Pusat kendali ini menjadi dasar penempatan tenaga kesehatan dan relawan sesuai kebutuhan di lapangan.
Baca Juga: Gempa M 7,7 di Manggarai Timur: 17 Orang Meninggal, Sejumlah Fasilitas Umum Rusak
Agus menambahkan, pemetaan kondisi fasilitas kesehatan, alat medis, obat-obatan, serta kebutuhan lainnya sedang dirampungkan.
Data tersebut akan menjadi panduan bagi tim bantuan agar mengetahui lokasi yang membutuhkan dukungan dan jenis bantuan yang diperlukan.
Kemenkes juga menyiapkan dukungan logistik kesehatan untuk menghadapi kondisi darurat.
Baca Juga: 14 Korban Jiwa, Ribuan Warga Mengungsi Akibat Gempa M7,7 di NTT
Bantuan mencakup delapan paket obat dasar, lima paket emergency kit, 1.000 sarung tangan steril, 20 ribu sarung tangan nonsteril, serta 20 ribu masker bedah.
Selain itu, pemerintah menyiapkan 10 unit oksigen konsentrator dan dua tenda untuk pos kesehatan. Delapan tenda tambahan disiagakan untuk mendukung pelayanan Emergency Medical Team (EMT) tipe 1.
Gempa kuat yang mengguncang NTT terjadi pada Sabtu, 15 Agustus 2026 pukul 04.58 WIB dengan magnitudo 7,7. Pusat gempa berada sekitar 38 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, pada kedalaman 10 kilometer.
Baca Juga: Menantang Maut di Selasar Maumere: Kala Nakes RS TC Hillers Mempertaruhkan Nyawa Demi Pasien
Guncangan sempat memunculkan peringatan dini tsunami, namun BMKG mengakhiri peringatan tersebut pada pukul 09.00 WITA setelah tidak ditemukan potensi tsunami.
Dengan kondisi sejumlah fasilitas kesehatan yang masih rusak, percepatan pemulihan menjadi krusial agar masyarakat tetap memperoleh layanan medis. Kebutuhan penanganan korban trauma, persalinan, imunisasi, dan pasien dengan terapi rutin tidak dapat ditunda.
Pemerintah kini mengandalkan kombinasi pemulihan rumah sakit, pengoperasian fasilitas darurat, dan sistem rujukan antarrumah sakit untuk menjaga layanan kesehatan masyarakat NTT tetap berjalan selama proses rehabilitasi berlangsung.***















