BeritaDaerah

Impact Based Forecasting (IBF) Lembata: Tonggak Awal Manajemen Risiko Bencana di Indonesia

9
×

Impact Based Forecasting (IBF) Lembata: Tonggak Awal Manajemen Risiko Bencana di Indonesia

Sebarkan artikel ini

Simulasi Meja Rencana Kontingensi Kekeringan 2026 di Lembata jadi uji coba pertama IBF di Indonesia.

Simulasi Meja Rencana Kontingensi Kekeringan 2026 di Lembata jadi uji coba pertama IBF di Indonesia. Foto: Istimewa.
Simulasi Meja Rencana Kontingensi Kekeringan 2026 di Lembata jadi uji coba pertama IBF di Indonesia. Foto: Istimewa.

Harian Warga – Pemerintah Kabupaten Lembata resmi memulai penerapan Impact Based Forecasting (IBF) atau Prakiraan Berbasis Dampak dalam Aksi Merespons Peringatan Dini (AMPD) melalui Simulasi Meja Rencana Kontingensi Kekeringan Tahun 2026. Kegiatan ini berlangsung di Ballroom & Resto Cafe Olympic, Lewoleba, Jumat (04/09/2026), dan menjadi tonggak awal uji coba proyek IBF pertama di Indonesia.

IBF hadir sebagai pendekatan baru dalam manajemen risiko bencana. Jika sebelumnya penanganan lebih banyak dilakukan setelah kejadian, kini pemerintah diarahkan untuk mengambil langkah antisipasi berdasarkan prediksi dampak.

Bupati Lembata P. Kanisius Tuaq melalui Asisten III Bidang Administrasi Umum, Yohanes Berchmans Daniel Dai, menegaskan pentingnya perubahan paradigma.

Baca Juga: Pemerintah Kabupaten Lembata Perkuat Sinergi Data, Perencanaan, dan Penganggaran Penanggulangan AIDS, TBC, Malaria

“Kita tidak boleh hanya bergerak setelah bencana terjadi. Pemerintah harus mampu membaca risiko, memahami dampak, dan mengambil tindakan lebih awal sebelum masyarakat menjadi korban,” tegasnya.

Menurut Bupati, prinsip Satu Data, Satu Analisis, Satu Aksi menjadi kunci agar informasi peringatan dini tidak berhenti sebagai laporan, melainkan diterjemahkan menjadi keputusan dan tindakan nyata.

Perwakilan World Food Programme (WFP) Indonesia, Wahyu Kuncoro, menyebut penerapan IBF di Lembata sebagai langkah strategis membangun sistem kesiapsiagaan modern.

Baca Juga: Bupati Lembata Serahkan SK Kepala Sekolah untuk Penataan Pendidikan

“Kesiapsiagaan bukan hanya tentang merespons bencana, tetapi bagaimana memastikan masyarakat terlindungi sebelum dampak terjadi,” ujarnya.

Apresiasi juga datang dari BPBD Provinsi NTT. Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan, Safrudin Herman, menilai pendekatan berbasis dampak akan memperkuat koordinasi lintas sektor, terutama menghadapi ancaman kekeringan di NTT.

Sementara itu, Kepala BMKG Stasiun Klimatologi Kelas I NTT, Rahmatullah Adji, menegaskan IBF sebagai bagian transformasi layanan informasi iklim agar lebih mudah diterjemahkan menjadi tindakan mitigasi.

Baca Juga: Bupati Lembata P. Kanisius Tuaq Pimpin Pertemuan Strategis dengan Bank NTT

“Informasi iklim harus memberikan manfaat langsung bagi pengambilan keputusan,” jelasnya.

Selain simulasi, peserta juga melakukan doa bersama untuk mengenang 130 korban gempa Flores, sebagai bentuk solidaritas kemanusiaan.

Kegiatan ini melibatkan Forkopimda, BNPB, BPBD, BMKG, WFP, TNI, Polri, perangkat daerah, camat, kepala desa, serta LSM.

Baca Juga: Bupati Lembata Resmikan Sumur Bor di Tagawiti untuk Perkuat Ketersediaan Air Bersih

Melalui penerapan IBF, Pemerintah Kabupaten Lembata menegaskan komitmen membangun budaya kesiapsiagaan dengan prinsip “Siap Sebelum Terjadi”. Dengan demikian, setiap potensi bencana dapat diantisipasi lebih cepat dan dampaknya diminimalkan.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *