BeritaDaerah

Pemkab Lembata Apresiasi Frater CMM dalam Perayaan Syukur Hidup Membiara

37
×

Pemkab Lembata Apresiasi Frater CMM dalam Perayaan Syukur Hidup Membiara

Sebarkan artikel ini
Bupati Lembata, P. Kanisius Tuaq. Foto: Istimewa.
Bupati Lembata, P. Kanisius Tuaq. Foto: Istimewa.

Harian Warga – Pemerintah Kabupaten Lembata menyampaikan apresiasi dan penghargaan atas kesetiaan serta pengabdian para Frater Congregatio Fratrum Beatae Mariae Virginis de Monte Carmelo (CMM) yang merayakan syukur kaul kekal, 25 tahun, dan 40 tahun hidup membiara.

Perayaan penuh makna ini berlangsung di Gereja St. Fransiskus Asisi Lamahora, Sabtu (08/08/2026).

Ibadat dipimpin langsung oleh Uskup Larantuka, Mgr. Yohanes Hans Monteiro, dan dihadiri Bupati Lembata, P. Kanisius Tuaq, jajaran pimpinan Kongregasi CMM, para imam, biarawan-biarawati, serta umat.

Baca Juga: Desa Dulitukan Catat Sejarah, Permainan Rakyat Tampil di Panggung TEMAN KITA 2026

Dalam sambutannya, Bupati Lembata menegaskan bahwa perayaan syukur hidup membiara bukan sekadar peringatan perjalanan waktu, melainkan momentum refleksi atas kesetiaan, ketekunan, dan dedikasi yang telah diberikan bagi Gereja, masyarakat, dan kemanusiaan.

“Kesetiaan para yubilaris dalam menjalani panggilan hidup membiara menjadi teladan berharga bagi generasi muda dan seluruh masyarakat dalam menjalankan tugas serta tanggung jawab sesuai panggilan hidup masing-masing,” ujar Bupati Kanisius.

Ia menambahkan, kehadiran para pelayan religius telah memberikan kontribusi nyata dalam pembangunan manusia dan masyarakat. Melalui pelayanan pastoral, pendidikan, karya sosial, pembinaan kaum muda, serta pendampingan umat, para religius menanamkan nilai kasih, persaudaraan, perdamaian, dan kepedulian sosial di tengah kehidupan masyarakat.

Baca Juga: Hari Kedua TEMAN KITA 2026 di Lembata: Meriah dengan Permainan Rakyat dan Dukungan Bupati

Bupati Kanisius berharap perayaan syukur tersebut semakin meneguhkan semangat para yubilaris untuk terus berkarya dan menjadi berkat bagi banyak orang.

“Semoga segala karya pelayanan yang telah ditaburkan selama ini terus menghasilkan buah-buah kebaikan bagi Gereja dan masyarakat,” ungkapnya.

Sementara itu, Uskup Larantuka, Mgr. Yohanes Hans Monteiro, dalam refleksinya menegaskan bahwa inti dari hidup membiara adalah menghadirkan Allah yang tidak kelihatan menjadi nyata melalui cara hidup, persaudaraan, dan pelayanan kepada sesama.

Baca Juga: KKJ NTT dan AJI Kupang Ingatkan Media: Jurnalisme Harus Berimbang, Bukan Provokatif

Menurutnya, meskipun setiap kongregasi memiliki karisma, spiritualitas, dan cara pelayanan yang berbeda, semuanya memiliki tujuan yang sama, yakni menghadirkan cinta Allah melalui pengabdian yang tulus bagi Gereja dan dunia.

“Hidup bakti adalah persekutuan orang kudus di dunia ini yang coba dihadirkan dalam cara hidup para biarawan dan biarawati. Berbagai karisma boleh berbeda, tetapi satu hal tetap sama dan tidak terbagi, yakni cinta yang abadi kepada Tuhan dalam karya pelayanan,” tegas Uskup Hans.

Uskup Hans juga memberikan apresiasi khusus kepada para yubilaris, terutama Frater Markus bersama keluarga dan Kongregasi CMM.

Baca Juga: KADIN Lembata Dilantik, Pemerintah Tegaskan Peran Strategis Dorong Pertumbuhan Ekonomi Daerah

Ia menyebut perjalanan hidup membiara selama puluhan tahun sebagai pencapaian luar biasa.

Menariknya, meski kehadiran Kongregasi CMM di Keuskupan Larantuka baru berlangsung pada tahun 2026, sudah ada anggota yang mencapai 40 tahun hidup membiara, yakni Frater Betekeneng yang berasal dari wilayah Keuskupan Larantuka.

“Lembata ini tanah yang subur sekali untuk panggilan, tetapi juga untuk nelayan, tani, dan ternak,” kata Uskup Hans, menegaskan potensi besar Lembata bukan hanya dalam sumber daya alam, tetapi juga dalam pertumbuhan panggilan dan kehidupan rohani.

Baca Juga: Pemkab Lembata Hadirkan Layanan Hemodialisis di RSUD Lewoleba, Wujudkan Akses Kesehatan Lebih Dekat

Sebelum mengakhiri sapaannya, Uskup Larantuka mengajak seluruh umat untuk memahami bahwa kehidupan Gereja tidak terbatas dalam ruang gereja, melainkan harus hadir dan bertransformasi dalam kehidupan masyarakat.

“Kita tidak sedang membangun kehidupan Gereja hanya di dalam gereja. Di manapun kita berada, kita dipanggil untuk menjadi bagian dari Gereja lokal tempat kita hidup. Kekayaan karisma yang diberikan Tuhan menjadi warna dan kekuatan bagi Gereja lokal agar tanda Kerajaan Allah semakin nyata,” pungkasnya.

Perayaan syukur hidup membiara Frater CMM tersebut menjadi momentum memperkuat sinergi antara Gereja, pemerintah, dan masyarakat dalam membangun peradaban yang berakar pada nilai kemanusiaan, pelayanan, dan kasih bagi sesama.***

Respon (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *