HARIAN WARGA – Wakapolres Lembata, Kompol Muhammad Fakhruddin, S.Sos., M.Hum., CIAS, CELM, CPPSDM, usai bertemu perwakilan keluarga menjelaskan kepada media bahwa pihaknya memberikan atensi serius terhadap penanganan kasus kematian Kepala Desa Laranwutun, Polikarpus Demon.
“Kami sudah berkomunikasi dengan dokter forensik di Kupang untuk melakukan otopsi pada akhir bulan, tepatnya 30 April 2026. Kami bahkan mengutus Kasat Reskrim dan Kanit untuk bertemu langsung dengan dokter dan sudah dijadwalkan. Transportasi serta akomodasi juga disiapkan oleh kami demi pelayanan kepolisian kepada masyarakat,” ungkap Wakapolres yang akrab disapa Rudy, Sabtu (25/04/2026).
Menurut Rudy, penyidik Reskrim Polres Lembata terus mengumpulkan bukti. Hingga kini sudah dilakukan pemeriksaan terhadap sepuluh orang saksi.
“Masih ada potensi memanggil tiga sampai empat orang saksi lagi. Proses penyelidikan terus berjalan,” tegasnya.
Ia juga meminta keluarga dan masyarakat proaktif memberikan informasi maupun petunjuk agar kasus ini segera terang.
“Kami tetap bekerja dengan prinsip kehati-hatian agar tidak salah dalam menetapkan tersangka maupun pasal. Bukan berarti kasus ini jalan di tempat atau lambat, melainkan kami mengikuti proses hukum sesuai aturan. Masyarakat harus memberikan kepercayaan kepada kami,” jelas Rudy.
Baca Juga: Peliputan Ramah Anak, Plan International dan Forum Jurnalis Lembata Gelar Konsultasi Buku Panduan
Dalam penanganan hukum atas dugaan kematian tidak wajar Polikarpus Demon, Polres Lembata, lanjut Rudy, selalu terbuka dan transparan menyampaikan perkembangan kepada pihak keluarga maupun publik.
Aksi Damai Solidaritas Peduli Kematian Kades Laranwutun
Sementara itu, aksi damai dilakukan oleh massa yang tergabung dalam Solidaritas Peduli Kematian Kepala Desa Laranwutun. Mereka membawa berbagai tulisan menuntut keadilan atas dugaan kematian Polikarpus Demon yang dinilai tidak wajar.
Salah satu orator, Hendra Langoday, menyoroti nurani penyidik Polres Lembata agar serius menuntaskan kasus ini.
Baca Juga: Wakil Ketua DPRD Lembata Soroti Sekolah Rusak, Anggaran Pusat Fokus ke Program Makan Bergizi Gratis
“Kita menuntut kepekaan hati nurani pihak Polres Lembata dalam menangani kasus kematian Apol Making. Jangan lambat, karena itu kami meminta kejelasan jadwal otopsi yang sebelumnya sempat ditunda,” tegas Hendra.
Ia juga meminta pihak kepolisian mendalami kejanggalan atas kematian Polikarpus Demon.
Menurutnya, warga Desa Laranwutun tetap memberikan dukungan dan kepercayaan kepada Polres Lembata, dengan harapan kasus ini ditangani secara serius hingga tuntas.***















