BeritaDaerahNasionalNews

Menantang Maut di Selasar Maumere: Kala Nakes RS TC Hillers Mempertaruhkan Nyawa Demi Pasien

21
×

Menantang Maut di Selasar Maumere: Kala Nakes RS TC Hillers Mempertaruhkan Nyawa Demi Pasien

Sebarkan artikel ini
Keterangan Foto: Petugas Kesehatan RS TC Hillers saat melakukan evakuasi pasien ke luar ruangan akibat gempa, Sabtu (15/08/2026)/Foto: Istimewa.
Keterangan Foto: Petugas Kesehatan RS TC Hillers saat melakukan evakuasi pasien ke luar ruangan akibat gempa, Sabtu (15/08/2026)/Foto: Istimewa.

Harian Warga – Sabtu pagi itu, 15 Agustus 2026, suasana di Rumah Sakit TC Hillers Maumere sejatinya berjalan seperti biasa. Di dalam bangsal, aroma disinfektan menyeruak lembut di antara desis mesin pemantau detak jantung dan langkah pelan para perawat yang memeriksa kantong infus. Namun, ketenangan serasa dihempas seketika ketika tanah di bawah kaki mereka bergetar hebat.

Guncangan berkekuatan magnitudo 7,7 menghantam Pulau Flores tanpa peringatan. Dinding-dinding beton RS TC Hillers mengerang keras, sementara kaca jendela bergetar hebat memantulkan rasa panik yang membubung seketika.

Detik-Detik Riuh di Garis Depan

“Gempa! Gempa besar!” Terikan itu membahana di lorong-lorong rumah sakit. Lampu gantung berayun liar, beberapa barang di atas meja bertumbangan melempar bunyi keras ke lantai. Dalam hitungan detik, kekacauan mengintai setiap sudut bangunan.

Baca Juga: Gempa M7,7 di Laut Flores: Potensi Tsunami Mengancam Sejumlah Wilayah

Reaksi alamiah manusia saat bumi bergoncang adalah lari menyelamatkan diri sendiri. Namun, skenario di ruang rawat inap hari itu menceritakan kisah yang sama sekali berbeda.

Para dokter, perawat, hingga petugas kebersihan yang sedang berdinas tak lantas memikirkan langkah kaki mereka sendiri. Di pikiran mereka, ada puluhan nyawa yang terbaring lemah di atas ranjang medis, orang-orang yang tak punya kemampuan untuk berlari.

Refleks Kemanusiaan di Tengah Kekacauan

Tanpa ada komando panjang, naluri pelindung para tenaga medis langsung mengambil alih. Jemari yang tadinya memegang rekam medis kini mencengkeram erat besi tempat tidur pasien.

Baca Juga: OPINI: Perubahan KBLI Perusahaan Media: Antara Tertib Administrasi dan Beban Pelaku Usaha

Mereka mendorong ranjang-ranjang beroda itu secepat yang mereka bisa. Suara roda besi yang beradu cepat dengan ubin lantai menciptakan irama panik namun terarah di tengah deru guncangan gempa.

Beberapa suster terlihat memeluk erat balita yang sedang dirawat, menutupi tubuh kecil sang pasien dengan dada mereka sembari berlari menuju pintu keluar.

Sementara itu, petugas lainnya setengah memapah dan mendorong kursi roda pasien lansia yang tampak syok berat.

Baca Juga: Pemkab Lembata Resmikan Rumah Potong Unggas Waikomo untuk Perkuat Hilirisasi Peternakan

Tidak ada waktu untuk memilih barang bawaan. Tas pribadi, dompet, hingga telepon genggam para nakes tertinggal begitu saja di atas meja kerja. Yang terpenting bagi mereka saat itu hanyalah memindahkan tubuh-tubuh rapuh tersebut dari bawah ancaman atap beton yang sewaktu-waktu bisa rubuh.

Evakuasi Menembus Lorong Sempit

Menebus lorong rumah sakit dalam kondisi bumi terus bergoyang bukanlah perkara mudah. Pintu-pintu darurat dijangkau dengan kepungan rasa cemas kalau-kalau gempa susulan yang lebih dahsyat datang menghantam.

Namun, koordinasi tanpa kata berjalan sangat mulus. Ada petugas yang bertugas membuka dan menahan pintu, ada yang mengarahkan arus evakuasi agar tidak bertabrakan, dan ada pula yang terus menenangkan para pasien yang menangis ketakutan.

Baca Juga: Pemkab Lembata Apresiasi Frater CMM dalam Perayaan Syukur Hidup Membiara

“Tenang Pak, tenang Bu, kita sudah dekat luar,” celetuk seorang perawat pria sembari sekuat tenaga mendorong ranjang pasien ICU yang dipenuhi selang medis. Napasnya terengah-engah, namun pegangannya pada besi ranjang tak mengendur sedikit pun.

Usaha keras itu membuahkan hasil. Hanya dalam hitungan menit, area terbuka di halaman dan lapangan parkir RS TC Hillers dipenuhi oleh ratusan manusia gabungan antara pasien, keluarga penunggu, dan puluhan petugas kesehatan yang terkulai lelah.

Halaman Rumah Sakit yang Berubah Jadi Bangsal Darurat

Sinar matahari pagi di Maumere menjadi saksi pemandangan yang menggetarkan dada. Halaman terbuka yang biasanya sepi kini mendadak berubah fungsi menjadi area perawatan darurat.

Baca Juga: Desa Dulitukan Catat Sejarah, Permainan Rakyat Tampil di Panggung TEMAN KITA 2026

Tempat tidur pasien berbaris tidak beraturan di atas selasar depan rumah sakit. Tiang infus yang dibawa seadanya dipegangi oleh sanak keluarga atau diikatkan pada tiang-tiang terdekat.

Meski berada di bawah langit terbuka dan didera bayang-bayang trauma, tugas para nakes belum usai. Begitu menginjakkan kaki di tempat aman, mereka tak lantas beristirahat.

Dengan tangan yang masih gemetar, para perawat kembali memeriksa satu per satu kondisi pasien. Mereka memastikan jalur infus tidak terlepas, menyuntikkan obat-obatan yang sempat tertunda, serta memeriksa tekanan darah warga yang terbaring lemas.

Baca Juga: Hari Kedua TEMAN KITA 2026 di Lembata: Meriah dengan Permainan Rakyat dan Dukungan Bupati

Keberanian yang Menyisakan Harapan

Kejadian sabtu pagi di Maumere ini menegaskan satu hal: profesionalisme tenaga medis tidak hanya diuji lewat ketelitian medis di dalam ruang operasi, tetapi juga lewat keberanian ekstra di saat krisis melanda.

Goncangan magnitudo 7,7 boleh saja meretakkan dinding bangunan RS TC Hillers, namun guncangan itu gagal meretakkan dedikasi para petugas kesehatannya. Di tengah riuhnya kepanikan bencana, tindakan cepat dan tanpa pamong mereka menjadi pembeda antara hidup dan mati bagi banyak orang.

Hingga berita ini diturunkan, situasi di area RS TC Hillers masih dalam pemantauan ketat.

Baca Juga: KKJ NTT dan AJI Kupang Ingatkan Media: Jurnalisme Harus Berimbang, Bukan Provokatif

Para pasien sementara waktu tetap dirawat di area terbuka guna mengantisipasi bahaya gempa susulan, sembari menunggu koordinasi lebih lanjut dari pihak berwenang dan tim penanggulangan bencana setempat.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *