Ekonomi

Alumni Jogja Lembata Siapkan Lapak Angkringan: Merajut Nostalgia, Membangun Kebersamaan

182
×

Alumni Jogja Lembata Siapkan Lapak Angkringan: Merajut Nostalgia, Membangun Kebersamaan

Sebarkan artikel ini
Alumni Jogja Lembata Siapkan Lapak Angkringan: Merajut Nostalgia, Membangun Kebersamaan. Foto: Istimewa.
Alumni Jogja Lembata Siapkan Lapak Angkringan: Merajut Nostalgia, Membangun Kebersamaan. Foto: Istimewa.

LEMBATA – Jogja sejak lama dikenal sebagai kota pelajar sekaligus kota angkringan. Di setiap sudut jalan, kita bisa menemukan gerobak sederhana dengan nasi kucing, sate-satean, dan wedang hangat yang menjadi teman obrolan malam. Budaya angkringan bukan sekadar kuliner, melainkan ruang sosial yang merangkul siapa saja: mahasiswa, pekerja, seniman, hingga warga biasa.

Kini, semangat itu hendak dibawa pulang oleh sekelompok alumni asal Lembata yang pernah menimba ilmu di Yogyakarta. Mereka menamakan diri Alumni Jogja Lembata, sebuah komunitas yang lahir dari ikatan perantauan, dan berencana membuka lapak angkringan di daerah asal mereka.

Angkringan Sebagai Ruang Nostalgia

Bagi para alumni, angkringan bukan hanya tempat makan murah meriah. Ia adalah simbol kebersamaan, solidaritas, dan egalitarianisme. Di angkringan, semua orang duduk sejajar, tanpa sekat status sosial. Obrolan bisa melompat dari isu kampus, politik, hingga cerita ringan tentang kehidupan sehari-hari.

Baca Juga: Buka Puasa di Hari 7 Maret, Pemkab Lembata Serukan Persatuan di Tengah Perbedaan

“Angkringan itu bagian dari memori kami selama kuliah di Jogja. Rasanya sayang kalau budaya ini tidak kami bawa pulang,” ujar salah satu penggagas.

Dengan membuka lapak angkringan di Lembata, mereka ingin menghadirkan kembali atmosfer Jogja yang hangat, sekaligus memperkenalkan budaya kuliner khas Jawa kepada masyarakat lokal.

Lapak angkringan yang direncanakan tidak sekadar menjual nasi kucing dan teh panas. Alumni Jogja Lembata ingin menghadirkan konsep yang lebih kreatif:

Baca Juga: Menagih Warisan Sejarah: Apakah Spirit Persatuan 7 Maret 1954 Masih Hidup di Lembata?

  • Menu khas Jogja seperti nasi kucing, sate usus, sate telur puyuh, gorengan, dan wedang jahe.
  • Sentuhan lokal Lembata, misalnya tambahan lauk ikan laut, sambal khas Flores, atau jagung titi sebagai camilan.
  • Ruang diskusi dan komunitas, di mana lapak angkringan bisa menjadi tempat berkumpul anak muda, seniman, dan aktivis lokal.
  • Harga terjangkau, tetap mempertahankan filosofi angkringan sebagai kuliner rakyat.

Baca Juga: Wakil Bupati Lembata Apresiasi Program Terang Berkah Ramadan PLN

Dengan konsep ini, mereka berharap angkringan bukan hanya menjadi usaha kuliner, tetapi juga wadah interaksi sosial yang memperkuat jaringan alumni dan masyarakat.

Selain nostalgia, lapak angkringan juga dipandang sebagai peluang ekonomi kreatif. Alumni Jogja Lembata ingin memberdayakan pemuda lokal sebagai pengelola, sekaligus membuka lapangan kerja baru.

Model bisnisnya sederhana: gerobak angkringan dengan sistem franchise internal. Setiap alumni yang berminat bisa membuka cabang dengan standar menu dan branding yang sama. Dengan begitu, angkringan bisa berkembang menjadi jaringan usaha yang berakar dari komunitas.

Baca Juga: Sekda Lembata Ikuti Rakor Bersama Gubernur NTT Bahas Dampak Batas Belanja Pegawai 30 Persen terhadap PPPK

“Ini bukan sekadar bisnis, tapi gerakan sosial-ekonomi. Kami ingin anak muda Lembata punya ruang usaha yang ramah modal dan dekat dengan budaya,” jelas salah satu koordinator.

Tentu, membuka lapak angkringan di Lembata bukan tanpa tantangan. Pertama, soal adaptasi selera. Masyarakat Lembata terbiasa dengan makanan berbasis ikan dan jagung, sehingga perlu penyesuaian menu agar tetap diterima. Kedua, soal logistik: bahan baku seperti sate usus atau nasi kucing mungkin tidak selalu tersedia, sehingga harus ada inovasi lokal.

Namun, para alumni optimistis. Mereka percaya bahwa masyarakat Lembata terbuka terhadap inovasi kuliner, apalagi jika dikemas dengan nuansa kebersamaan. Harapannya, angkringan bisa menjadi ikon baru di kota, tempat nongkrong yang inklusif, sekaligus ruang lahirnya ide-ide kreatif.

Baca Juga: SAKIP Jadi Instrumen Kinerja Berbasis Hasil, Pemkab Lembata Serahkan SAKIP Award kepada 36 Penerima

Lebih dari sekadar usaha, lapak angkringan ini adalah simbol pulang kampung. Alumni Jogja Lembata ingin menunjukkan bahwa pengalaman merantau tidak berhenti di Jogja, tetapi bisa dibawa pulang untuk memperkaya daerah asal.

Dengan angkringan, mereka merajut kembali kenangan masa kuliah, sekaligus menanam benih kebersamaan di tanah kelahiran. Angkringan menjadi jembatan antara Jogja dan Lembata, antara nostalgia dan masa depan.

Rencana Alumni Jogja Lembata membuka lapak angkringan adalah contoh bagaimana budaya bisa menjadi medium pembangunan sosial. Dari gerobak sederhana, lahir ruang pertemuan, peluang ekonomi, dan simbol identitas.

Baca Juga: Wabup Nasir dan PLN ULP Lembata Sinergi Bahas Program ‘Terang Berkah Ramadhan’

Jika berhasil, angkringan ini bukan hanya akan menghidupkan malam-malam di Lembata, tetapi juga menjadi bukti bahwa alumni bisa berkontribusi nyata bagi daerah asal. Seperti filosofi angkringan itu sendiri: sederhana, merakyat, tapi penuh makna.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *