Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98: KAJ Ajak OMK Teladani Kepemimpinan Empat Paus untuk Indonesia

Harianwarga.id
1 Nov 2026 13:40
News 0 7
4 menit membaca

PERINGATAN Hari Sumpah Pemuda ke-98 menjadi momentum bagi Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) untuk mengajak Orang Muda Katolik (OMK) memperkuat semangat persatuan, cinta tanah air, dan pengabdian kepada bangsa melalui keteladanan empat Paus.

Pesan tersebut disampaikan dalam seminar bertajuk Belajar dari Kepemimpinan 4 Paus yang digelar di Pusat Pastoral Samadi, Jakarta, Rabu (28/10/2026).

Kegiatan ini diikuti ratusan peserta yang terdiri atas perwakilan OMK dari berbagai paroki, mahasiswa, hingga Taruna Muda Katolik dari lingkungan TNI, Polri, STIK, Universitas Pertahanan (Unhan), dan BIN.

Seminar tersebut merupakan hasil kolaborasi Komisi Kepemudaan (Komkep) KAJ, Pusat Pastoral (PusPas) KAJ, Ordinariatus Castrensis Indonesia (OCI), serta sejumlah jejaring gerakan seperti Cultura di Vita, Kabar Baik, dan Forducat.

Dipandu jurnalis senior Rosiana Silalahi, diskusi menghadirkan empat narasumber, yakni Romo Yustinus Sulistiadi, Pr., Romo Ricky Maulana, Pr., Romo Yustinus Ardianto, Pr., dan Romo Ulun Ismoyo, Pr.

Dalam pemaparannya, para narasumber menekankan bahwa kepemimpinan tidak semata-mata berkaitan dengan jabatan atau posisi. Kepemimpinan sejati lahir dari keberanian mengambil tanggung jawab, melayani sesama, dan memberikan teladan dalam kehidupan sehari-hari.

Keteladanan Santo Paus Yohanes Paulus II menjadi salah satu fokus pembahasan. Melalui pesan non abbiate paura atau “jangan takut”, kaum muda diajak memiliki keberanian menghadapi tantangan zaman, terus belajar, dan tetap teguh menjalankan tanggung jawab di tengah berbagai perubahan sosial.

Sementara itu, Paus Benediktus XVI dikenang sebagai sosok yang menempatkan dialog dan kerendahan hati intelektual sebagai bagian penting dalam kepemimpinan.

Nilai tersebut dipandang relevan bagi generasi muda yang hidup di tengah derasnya arus informasi dan perbedaan pandangan.

Inspirasi lainnya datang dari Paus Fransiskus yang mendorong kaum muda untuk keluar dari zona nyaman, membangun kepekaan sosial, serta membuka diri terhadap sesama tanpa sekat.

Pesan itu dinilai penting dalam memperkuat solidaritas dan kepedulian di tengah kehidupan masyarakat yang semakin beragam.

Adapun kepemimpinan Paus Leo XIV menjadi refleksi mengenai pentingnya menghubungkan nilai moral dan ajaran sosial Gereja dengan berbagai persoalan kekinian, termasuk isu keadilan sosial dan keberlanjutan.

Keempat figur tersebut dipandang sebagai sumber inspirasi bagi kaum muda untuk mengembangkan integritas, menghargai perbedaan, serta memperjuangkan kebaikan bersama. Nilai-nilai itu dinilai tetap relevan diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat maupun menghadapi tantangan era digital.

Ketua Panitia, RD Yoseph Maria Marcelinus Bintoro, Pr., menegaskan bahwa peringatan Sumpah Pemuda tidak boleh berhenti sebatas seremoni tahunan.

Menurutnya, semangat kebangsaan harus diwujudkan melalui tindakan nyata yang menumbuhkan kecintaan terhadap Indonesia.

“Kita siapkan gerakan-gerakan kita selanjutnya untuk semakin menghidupi cinta akan tanah air. Karena kita merawat sejarah kita, kita menghidupi tanggung jawab sejarah kita,” ujar Romo Yoseph Maria Marcelinus Bintoro seusai Misa Syukur di Pusat Pastoral Samadi.

Ia juga mengapresiasi perjumpaan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi dengan orang muda Katolik dari beragam paroki, termasuk peserta dari institusi pendidikan TNI dan Polri.

Menurutnya, interaksi tersebut menjadi ruang pembelajaran bersama dalam membangun karakter kepemimpinan dan semangat kebangsaan.

Kehadiran para imam dari lingkungan kuria, lembaga pendidikan, paroki teritorial, hingga pelayanan kategorial turut menunjukkan pentingnya sinergi berbagai elemen Gereja dalam menyiapkan generasi pemimpin masa depan.

Rangkaian kegiatan mencapai puncaknya melalui Perayaan Ekaristi konselebrasi yang dipimpin Uskup Keuskupan Agung Jakarta, Kardinal Ignatius Suharyo.

Perayaan itu menjadi ungkapan syukur sekaligus ajakan agar kaum muda tidak hanya menjadi penonton di tengah dinamika kehidupan berbangsa, melainkan berani mengambil peran dalam memperjuangkan nilai kemanusiaan dan kebangsaan.

Dimensi kebangsaan dalam kegiatan ini juga diperkuat dengan kehadiran sejumlah perwira tinggi militer, di antaranya Mayjen TNI Frega Wenas Inggiriwang, Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait, dan Marsda TNI (Purn) Herly.

Melalui kolaborasi antara komisi keuskupan, gerakan awam, komunitas media, kalangan akademisi, serta unsur pertahanan dan keamanan.

KAJ berharap semangat pelayanan dapat diwujudkan dalam berbagai bidang kehidupan, mulai dari pendidikan, sosial kemasyarakatan, hingga pengabdian kepada negara.

Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 ini sekaligus menegaskan bahwa persatuan bukan sekadar warisan sejarah yang dikenang setiap tahun.

Lebih dari itu, persatuan harus terus dihidupi melalui keberanian mengambil tanggung jawab, menghargai perbedaan, dan bekerja bersama demi menjaga keutuhan serta mendorong kemajuan Indonesia.***

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x