BeritaDaerahNasionalSeni Budaya

Festival Muro 2026: Merawat Pesisir, Melestarikan Budaya Lembata

85
×

Festival Muro 2026: Merawat Pesisir, Melestarikan Budaya Lembata

Sebarkan artikel ini
Festival Muro 2026: Merawat Pesisir, Melestarikan Budaya Lembata. Foto: Istimewa.
Festival Muro 2026: Merawat Pesisir, Melestarikan Budaya Lembata. Foto: Istimewa.

HARIAN WARGA – Masyarakat adat bersama berbagai pemangku kepentingan di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), dengan dukungan Yayasan Plan International Indonesia (Plan Indonesia) dan Yayasan Bina Sejahtera Baru, sukses menggelar Festival Muro 2026. Acara bertema “Festival Muro: Merawat Pesisir dan Melestarikan Budaya” ini berlangsung selama dua hari, 22–23 April 2026, sebagai wujud nyata menjaga ekosistem laut sekaligus memperkuat identitas budaya konservasi masyarakat pesisir Lembata.

Muro: Tradisi Adat yang Menjadi Sistem Konservasi

Berdasarkan penilaian risiko dampak perubahan iklim 2020, Lembata menghadapi ancaman abrasi, kerusakan ekosistem seperti terumbu karang dan hutan mangrove, serta peningkatan suhu pesisir. Nelayan pun harus melaut lebih jauh dengan waktu tangkap yang semakin singkat.

Untuk menjawab tantangan tersebut, masyarakat adat Lembata mengandalkan Muro, sistem konservasi laut berbasis kearifan lokal yang telah diwariskan turun-temurun. Melalui aturan adat, Muro mengatur zonasi dan periode pengambilan hasil laut sehingga ekosistem dapat pulih dan sumber daya tetap berkelanjutan. Tradisi ini bukan sekadar praktik ekologis, melainkan simbol harmoni antara manusia dan alam.

Baca Juga: Wabup Lembata Tegaskan Pengawasan Ketat Program Makanan Bergizi Gratis di TK Negeri 3 Lewoleba

Hari Pertama: Jelajah Alam dan Aksi Nyata

Festival dibuka pada Rabu (22/04/2026) dengan kegiatan trekking menyusuri wilayah konservasi Muro. Peserta diajak melihat langsung praktik konservasi pesisir. Dilanjutkan dengan pelepasan 95 terumbu karang buatan (Bioreeftek) sebagai upaya rehabilitasi ekosistem laut.

Tak berhenti di situ, aksi bersih pantai dan penanaman 400 pohon mangrove menjadi bukti kepedulian terhadap lingkungan. Suasana semakin semarak dengan pentas seni budaya pesisir oleh kaum muda serta pasar lokal yang menyajikan kuliner, suvenir, dan hasil laut masyarakat.

Hari Kedua: Diskusi, Edukasi, dan Kreativitas

Pada Kamis (23/04/2026), festival diisi dengan diskusi bersama Komite Muro dan kaum muda bertema “Muro sebagai Identitas Budaya Lokal Masyarakat Lembata dalam Konservasi Laut dan Pesisir Berkelanjutan”.

Baca Juga: Bupati Lembata Dukung Kegiatan Live In Mahasiswa STIPAS di Desa Hadakewa

Selain itu, digelar pendidikan konservasi bagi pelajar SLTP/MTs dan SLTA, serta lomba kreatif seperti menggambar, cipta puisi, dan teater yang menggambarkan proses adat menutup dan membuka Muro. Festival ditutup dengan pentas seni budaya dan pasar lokal.

Harapan dan Pesan

Festival Muro 2026 diharapkan memperkuat peran masyarakat adat dalam menjaga pesisir berbasis kearifan lokal, sekaligus menumbuhkan kecintaan anak-anak dan kaum muda terhadap laut sebagai sumber penghidupan.

Acara ini juga menargetkan lahirnya data hasil trekking mengenai keanekaragaman hayati, kondisi lingkungan, dan peluang pengembangan konservasi serta ekowisata di Lembata.

Baca Juga: Pemkab Lembata Dorong Produksi Jambu Mente Unggulan Lewat Program Pohon Induk di Watanlolon

Resource Mobilization and External Relation Director Plan Indonesia, Urip Budiarto, menegaskan dengan melibatkan anak-anak dan generasi muda, kita menanamkan nilai cinta lingkungan, tanggung jawab sosial, dan kebanggaan terhadap budaya lokal. Muro adalah contoh nyata bagaimana perlindungan lingkungan dan pemenuhan hak anak dapat berjalan seiring dalam konteks budaya masyarakat adat.

Sementara itu, Ketua YBS Baru Lembata, Kornelia Penate, menambahkan Festival Muro adalah bentuk penghargaan terhadap budaya melalui partisipasi masyarakat adat, nelayan, kaum muda perempuan, dan pemerintah desa. Konservasi Muro adalah investasi, mari kita bersama menjaga laut dan pesisir dari ancaman apa pun.

Momentum Kolaborasi

Festival Muro 2026 menjadi momentum kolaborasi antara masyarakat adat, pemerintah, akademisi, pelajar, pelaku usaha, dan wisatawan. Lebih dari sekadar perayaan budaya, festival ini memperkenalkan Lembata sebagai destinasi ekowisata berbasis kearifan lokal yang menjanjikan masa depan berkelanjutan.***

Respon (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *