Harian Warga – Festival Internasional Lamaholot kembali menjadi ruang refleksi penting bagi masyarakat Nusa Tenggara Timur. Dalam talkshow budaya yang digelar, para narasumber menegaskan bahwa teknologi digital seharusnya menjadi alat untuk memperkuat identitas budaya, bukan menggantikannya.
Regenerasi Budaya yang Melemah
Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah, Anselmus Assan Olla, menyoroti lemahnya regenerasi budaya Lamaholot.
Ia menilai, bahasa daerah dan busana adat semakin ditinggalkan generasi muda.
Baca Juga: Bupati Lembata P. Kanisius Tuaq Pimpin Rapat Evaluasi APBD dan Program Strategis 2026
“Regenerasi budaya Lamaholot tidak berjalan. Unsur budaya seperti bahasa daerah dan pakaian adat mulai ditinggalkan. Bahkan ada orang asing yang lebih fasih berbahasa kita dibanding anak-anak kita sendiri,” ujarnya.
Menurutnya, tantangan terbesar saat ini adalah hadirnya dunia digital yang kerap dipandang sebagai peradaban baru. Padahal, teknologi hanyalah alat yang seharusnya dimanfaatkan untuk melestarikan kebudayaan.
Ia mendorong lahirnya karya kreatif berbasis budaya lokal, termasuk film animasi atau kartun yang mengangkat cerita rakyat Lamaholot.
Baca Juga: Perwabantt Lewoleba Dorong Literasi Keuangan Digital Lewat Sosialisasi QRIS Bank NTT
Anselmus menekankan, pelestarian budaya harus dimulai dari keluarga. Ia mencontohkan aturan di rumahnya: setiap Sabtu dan Minggu wajib menggunakan bahasa Adonara sebelum anak-anak diperbolehkan bermain gawai.
“Pertanyaannya, apakah kita membiarkan budaya Lamaholot tinggal menjadi kenangan atau mewariskannya kepada generasi berikutnya?” katanya.
Perubahan adalah Keniscayaan
Sementara itu, Kepala Dinas Kominfo, Petrus Demong, mengingatkan bahwa perubahan merupakan keniscayaan dalam kehidupan bermasyarakat.
Baca Juga: Keunikan Sarung Adat Ile Ape Proses 3 Tahun Hargai Rp25 Juta, Memukau Pengunjung Festival Lamaholot
Ia mengutip pandangan seorang novelis Prancis yang menyebut bahwa tidak ada yang abadi selain perubahan itu sendiri.
Dalam konteks pemerintahan digital, perwakilan Dinas Kominfo Kabupaten Lembata menjelaskan bahwa pemerintah berkewajiban menyediakan infrastruktur, platform, serta layanan digital yang mendukung pelayanan publik. Saat ini, jaringan telekomunikasi telah menjangkau 37 titik di sembilan kecamatan, meski masih ada wilayah yang terbatas akses internet.
Sebagai daerah kategori 3T, sebagian masyarakat mulai memanfaatkan layanan berbasis satelit seperti Starlink. Pemerintah juga mendorong lahirnya platform digital lokal yang terintegrasi dengan portal resmi daerah.
“Langkah konkret yang dapat dilakukan saat ini adalah setiap OPD memiliki akun media sosial resmi tanpa harus mengeluarkan biaya besar. Literasi digital, keamanan digital, dan etika bermedia juga menjadi bagian penting yang terus kami dorong,” jelasnya.
Tenun Lamaholot dan Peluang Digital
Doktor kebudayaan sekaligus peneliti tenun Lamaholot, Miss Linda, menilai era digital justru membuka peluang besar bagi pelestarian warisan tekstil tradisional.
Selama lebih dari satu dekade meneliti, ia melihat pentingnya dokumentasi digital melalui buku elektronik, media sosial, dan platform daring.
Baca Juga: Bupati Lembata Sampaikan Laporan Pertanggungjawaban APBD 2025 dalam Rapat Paripurna DPRD
Menurutnya, pengembangan ekonomi kreatif berbasis tenun harus tetap mempertahankan bahan kapas dan motif tradisional agar nilai budaya tidak hilang di tengah tuntutan pasar.
“Kita bisa memanfaatkan Instagram atau website untuk memasarkan tenun. Tetapi yang terpenting adalah mempertahankan motif, makna, dan cerita di balik setiap karya,” ujarnya.
Linda mengapresiasi keterlibatan anak-anak muda dalam mempromosikan budaya Lamaholot melalui media digital.
Baca Juga: Antrean Panjang dan Kelangkaan BBM Subsidi di Lembata, Bupati-Wabup Pimpin Operasi Transparansi
Ia mengingatkan bahwa konten yang dipublikasikan tidak hanya menampilkan bentuk dan ragam hias, tetapi juga filosofi yang terkandung di dalamnya.
Kebudayaan sebagai Fondasi Pembangunan
Kepala Bappelitbangda Kabupaten Lembata, Dokter Manto, menegaskan bahwa kebudayaan telah menjadi fondasi utama dalam dokumen pembangunan daerah maupun nasional periode 2025–2045.
Transformasi ekonomi, sosial, dan tata kelola pemerintahan, menurutnya, harus dilandasi oleh ketahanan sosial budaya. Konsep lokal seperti muro dan duang bahkan telah dimasukkan dalam RPJMD sebagai bagian dari pembangunan berkelanjutan berbasis ekologi dan budaya.
Baca Juga: Membaca Ulang Jalan Revolusi: Demokrasi Harus Kembali Pada Tujuan Bernegara
“Pembangunan kebudayaan tidak hanya soal festival. Di dalamnya ada literasi budaya, ekonomi budaya, pendidikan, kesetaraan gender, hingga ekologi budaya. Semua itu sudah termuat dalam dokumen perencanaan daerah,” katanya.
Generasi Muda dan Tantangan Digitalisasi
Sekretaris Dinas Pariwisata, Kristianus Molan, menyoroti menurunnya minat generasi milenial dan Gen Z terhadap aktivitas budaya seperti menenun dan menari daerah. Banyak anak muda berusia 25 tahun yang tidak lagi memiliki keterampilan menenun.
Ia menekankan pentingnya digitalisasi sebagai sarana dokumentasi budaya yang selama ini diwariskan secara lisan.
Baca Juga: Kejari Waiwerang Tahan Tiga Tersangka Korupsi Proyek Air Bersih di Flores Timur
“Cerita rakyat, bahasa ibu, dan tradisi adat harus diarsipkan secara digital. Jika tidak, kita berisiko kehilangan warisan budaya yang selama ini hanya dituturkan dari generasi ke generasi,” ujarnya.
Ajakan Kolaborasi
Menutup diskusi, Anselmus Assan Olla kembali mengajak seluruh elemen masyarakat untuk berkolaborasi dalam gerakan literasi budaya.
Ia mencontohkan sejumlah komunitas yang secara mandiri mendokumentasikan proses pembuatan tenun mulai dari kapas hingga menjadi kain.
Baca Juga: PLAN Indonesia dan FJL Luncurkan Buku Panduan Peliputan Ramah Anak, Dorong Jurnalisme Beretika
“Kalau ada orang yang bisa melakukannya dengan biaya sendiri, mengapa kita tidak? Pemerintah adalah fasilitator. Yang kita butuhkan sekarang adalah kemauan, kolaborasi, dan daya dorong agar budaya Lamaholot tetap kuat di tengah perubahan zaman,” pungkasnya.***














Check out: https://kassetaua.com/ – очень удобно пользоваться. [jinlu]