FLORES TIMUR|HARIANWARGA.ID – Pembangunan Kampung Nelayan Terpadu di Kabupaten Flores Timur (Flotim), Provinsi Nusa Tenggara Timur, hingga kini belum menunjukkan hasil yang menggembirakan. Menjelang tenggat waktu penyelesaian proyek, progres fisik di lapangan masih jauh dari target. Bahkan, desain bangunan dilaporkan telah dirombak hingga tiga kali.
Proyek yang mulai dikerjakan pada 27 September 2025 tersebut dijadwalkan rampung pada 31 Desember 2025. Namun hingga pertengahan Desember, sejumlah pekerjaan utama belum terselesaikan secara maksimal.
Pengawas proyek dari pihak pelaksana, Amsil, mengungkapkan bahwa perencanaan proyek mengalami perubahan desain hingga tiga kali. Ironisnya, perubahan tersebut dilakukan tanpa peninjauan langsung ke kondisi lapangan.
“Beberapa bagian sudah dibangun berdasarkan gambar awal, lalu desainnya berubah. Akibatnya, kami harus melakukan penyesuaian yang tidak sedikit,” ujar Amsil kepada wartawan, Rabu (17/12/2025).
Ia juga menyoroti material yang digunakan di lapangan. Menurutnya, seng yang didatangkan oleh pihak kontraktor tidak sesuai dengan spesifikasi teknis (spek) yang telah ditetapkan dalam kontrak.
Perubahan desain yang berulang itu, lanjut Amsil, telah memicu terbitnya dua kali Contract Change Order (CCO), dan besar kemungkinan akan berlanjut ke CCO ketiga. Kondisi ini menunjukkan bahwa perencanaan awal proyek dinilai belum matang serta kurang mempertimbangkan kondisi riil di lapangan.
Amsil juga menilai PT Adhi Karya selaku kontraktor pelaksana kurang cermat dalam menyusun permohonan CCO. Sejumlah item pekerjaan tidak tercantum dalam dokumen pengajuan, padahal pekerjaan tersebut telah atau sedang dilaksanakan.
“Permohonan CCO yang tidak lengkap membuat banyak pekerjaan tidak terakomodasi. Ini tentu akan menyulitkan pada tahap akhir proyek,” jelasnya.
Berdasarkan data pengawasan per 17 Desember 2025, progres fisik proyek tercatat sebesar 60,83 persen. Namun hasil review independen menunjukkan angka yang jauh lebih rendah, yakni hanya 42,60 persen.
Perbedaan data ini memunculkan pertanyaan serius terkait akurasi pelaporan dan transparansi pelaksanaan proyek. Terlebih lagi, pada 28 Desember 2025, PT Adhi Karya mengklaim progres pembangunan telah mencapai 82 persen.
Pantauan langsung media di lokasi proyek menunjukkan bahwa klaim tersebut belum sejalan dengan kondisi lapangan. Beberapa bagian proyek masih berada pada tahap awal pengerjaan dan belum memperlihatkan kemajuan signifikan.
Amsil menjelaskan bahwa laporan akhir atau backup reel baru akan disusun pada saat Monthly Certificate (MC) ke-100. Pada tahap tersebut, CCO ketiga akan diajukan untuk menyesuaikan seluruh pekerjaan yang sebelumnya belum tercakup.
“Kami sempat berada dalam posisi sulit karena didesak untuk mempercepat progres, sementara banyak persoalan teknis belum diselesaikan,” ungkapnya.
Proyek Kampung Nelayan Terpadu ini merupakan bagian dari program strategis nasional yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir. Kawasan ini dirancang sebagai pusat terpadu yang mencakup hunian nelayan, fasilitas perikanan, serta infrastruktur pendukung lainnya.
Saat peletakan batu pertama pada 27 September 2025, Wakil Bupati Flores Timur, Ignasius Boli Uran, menaruh harapan besar agar proyek tersebut menjadi tonggak kemajuan ekonomi masyarakat nelayan di Flotim.
BACA JUGA: Pemkab Lembata Pastikan Lokasi Kampung Nelayan Tahun 2026
“Kampung Nelayan Terpadu ini bukan hanya soal infrastruktur, tetapi juga menyangkut masa depan anak cucu kita,” ujar Ignasius saat itu.
Hingga berita ini diturunkan, PT Adhi Karya belum memberikan keterangan resmi terkait perbedaan data progres maupun sorotan terhadap perencanaan dan pelaksanaan proyek tersebut.***













