BeritaDaerahPendidikanSeni Budaya

Dosen UPH Alexander Aur Raih Gelar Doktor dengan Disertasi Konservasi Integratif Paus Berbasis Kosmologi Lamalera

76
×

Dosen UPH Alexander Aur Raih Gelar Doktor dengan Disertasi Konservasi Integratif Paus Berbasis Kosmologi Lamalera

Sebarkan artikel ini
Dosen Universitas Pelita Harapan (UPH) Alexander Aur, SS, M.Hum. Foto: Istimewa.
Dosen Universitas Pelita Harapan (UPH) Alexander Aur, SS, M.Hum. Foto: Istimewa.

Harian Warga – Dosen Universitas Pelita Harapan (UPH) Alexander Aur, SS, M.Hum, Jumat (10/07/2026), resmi dinyatakan lulus Ujian Terbuka Promosi Doktor pada Program Studi Doktor Ilmu Lingkungan di Universitas Katolik Soegijapranata, Semarang, Jawa Tengah.

Dalam ujian terbuka tersebut, Alex Aur berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul “Konservasi Integratif Paus Berbasis Kosmologi Masyarakat Adat Lamalera, Lembata, Nusa Tenggara Timur”.

Sidang dipimpin oleh Ketua Tim Penguji Prof Dr Thresia Dwi Hastuti, M.Si, Akt, CA, CPA, CGAA, dengan promotor Prof Dr Christin Wibhowo, S.Psi, Psikolog.

Baca Juga: Bupati Lembata Larang Keras Penjualan BBM Subsidi di Lembata, Ancaman Hukuman 6 Tahun Penjara

Turut hadir pula kopromotor Dr Y Trihoni Nalesti Dewi, M.Hum; penguji internal Dr Leonardus Heru Pratowo, ST, MT dan Dr B Danang Setianto, SH, LLM; serta penguji eksternal dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dr Dedi Supriadi Adhuri.

Lahir dari Kegelisahan Akademik dan Ekologis

Dalam pemaparannya, Alex menjelaskan bahwa disertasi ini berangkat dari kegelisahan akademik sekaligus ekologis atas semakin kompleksnya tantangan konservasi keanekaragaman hayati di abad ke-21.

Menurutnya, meski pendekatan konservasi modern telah menghasilkan kebijakan, kawasan lindung, dan instrumen hukum, konflik konservasi tetap marak terjadi, terutama di wilayah masyarakat adat.

Baca Juga: Bupati Lembata P. Kanisius Tuaq Lantik 13 Kepala Sekolah dan 42 Pejabat Fungsional

“Konservasi sering dipersepsikan sebagai pembatasan ruang hidup masyarakat lokal. Padahal, penelitian internasional menunjukkan wilayah adat justru menyimpan tingkat keanekaragaman hayati yang tinggi,” ujar Alex, yang juga dikenal sebagai kolumnis media nasional dan mantan wartawan Majalah Mingguan HIDUP Jakarta.

Lamalera: Studi Kasus Konservasi Berbasis Kosmologi

Penelitian Alex berfokus pada masyarakat adat Lamalera di Pulau Lembata, NTT, yang dikenal sebagai komunitas nelayan tradisional penangkap paus. Praktik ini kerap dipandang sebagai eksploitasi satwa, namun menurut Alex, realitas sosial dan budaya Lamalera jauh lebih kompleks.

“Bagi masyarakat Lamalera, paus bukan sekadar sumber pangan. Paus adalah bagian dari tatanan kosmos yang menghubungkan manusia, alam, leluhur, dan Tuhan,” jelasnya.

Baca Juga: Bupati Lembata Letakkan Batu Pertama Pembangunan TK Lesu Mani di Desa Nilanapo

Ia menekankan bahwa aktivitas penangkapan paus di Lamalera diatur ketat oleh hukum adat, ritual budaya, dan norma moral. Dengan demikian, praktik tersebut tidak bisa dipahami semata sebagai perburuan, melainkan bagian dari sistem kosmologi yang menjaga keseimbangan ekosistem.

Konservasi Integratif: Paradigma Baru

Disertasi ini menawarkan konsep konservasi integratif berbasis kosmologi masyarakat adat. Model tersebut menekankan integrasi antara ilmu pengetahuan modern dan pengetahuan ekologis tradisional, hukum negara dan hukum adat, serta dimensi ekologis, sosial, budaya, ekonomi, dan spiritual.

“Konservasi tidak cukup hanya mengandalkan data ilmiah atau regulasi formal. Ia juga memerlukan pengakuan terhadap dimensi ontologis, etis, dan spiritual yang hidup dalam masyarakat,” tegas Alex.

Baca Juga: 13 Juli Resmi Jadi Hari Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa: Pengakuan Negara untuk Penghayat

Menurutnya, pengetahuan ilmiah memberi dasar metodologis, sementara pengetahuan adat menyediakan pemahaman kontekstual yang teruji oleh pengalaman panjang masyarakat dalam mengelola lingkungan.

Implikasi bagi Kebijakan Konservasi

Temuan Alex memiliki implikasi luas bagi kebijakan konservasi di Indonesia. Ia menilai kebijakan masa depan harus bergerak dari pendekatan eksklusif menuju pendekatan yang lebih adil, partisipatif, dan kolaboratif.

“Pengakuan terhadap masyarakat adat bukan hanya penghormatan terhadap hak budaya, tetapi juga strategi penting untuk efektivitas konservasi,” ujarnya.

Baca Juga: Festival Internasional Lamaholot 2026 Resmi Dibuka, Ribuan Warga Padati Kota Lewoleba

Disertasi ini juga memperkaya pengembangan ilmu lingkungan dengan menekankan bahwa keberhasilan konservasi tidak hanya ditentukan oleh aspek ekologis, tetapi juga oleh dimensi budaya, etika, dan kelembagaan.

Pesan untuk Masa Depan

Alex berharap hasil penelitiannya dapat menjadi referensi dalam penyusunan kebijakan konservasi di Indonesia.

Ia menekankan bahwa ratusan komunitas adat di Nusantara telah mengembangkan cara hidup yang selaras dengan alam selama berabad-abad.

Baca Juga: Festival Internasional Lamaholot 2026: Lebih dari Sekadar Panggung Budaya

“Konservasi bukan sekadar melindungi spesies atau kawasan. Ia adalah upaya merawat relasi antara manusia, alam, budaya, dan nilai kehidupan. Masa depan konservasi ditentukan oleh kemampuan kita membangun dialog setara antara berbagai cara memahami alam,” tutupnya.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *