LEMBATA – Front Masyarakat Lembata untuk Keadilan (FRONTAL) menemui Uskup Larantuka, Mgr Yohanes Frans Monteiro di Aula Paroki Maria Banneux, Senin (16/03/2026). Pertemuan ini untuk membahas suara penolak umat di Stasi Watuwawer.
FRONTAL bersama Forum Komunikasi Pemuda Atakore (FKPA), Tokoh Adat dan perempuan dari Atakore bertemu Uskup Larantuka untuk menyampaikan sejumlah persoalan yang timbul akibat rencana pembangunan geothermal.
Dalam pertemuan itu, FRONTAL telah menyampaikan berbagai dugaan manipulasi yang dilakukan terhadap umat stasi Watuwawer agar mendapatkan legitimasi terhadap proyek ini. Dugaan manipulasi ini juga diungkapkan langsung oleh Tokoh Adat yang juga sebagai umat katolik kepada Uskup Hans Monteiro.
Baca juga: Pemkab Lembata Gelar Gerakan Pangan Murah (GPM) Jelang HBKN, 75 Ton Bahan Pokok Disalurkan
Salah satunya, ia telah menolak geothermal namun ia diwawancarai terkait kamtibmas lalu diberitakan mendukung geothermal. Padahal ia tidak pernah mengatakan mendukung geothermal.
Termasuk pencatutan nama Tokoh Adat dan Tokoh Perempuan. Mereka juga sudah bicara langsung pada Uskup Hans Monteiro. Jadi ada banyak hal yang diungkapkan dalam pertemuan itu termasuk kerentanan Atadei sebagai lokasi pembangunan PLTP Atadei.
FRONTAL juga sempat menjelaskan kepada Uskup Frans Monteiro bahwa penjelasan kepada umat Stasi Watuwawer itu tidak tuntas. Penjelasan tentang geologi, geofisika geokimia dan kebencanaan itu belum dijelaskan sampai saat ini. Sebab, pada waktu yang lalu, masyarakat menuntut hal itu.
Baca Juga: Dari Rumah ke Rumah, dari Gereja ke Bumi: Pesan Pastoral Uskup Hans Monteiro yang Menohok
Hal ini merupakan bagian penting yang harus diketahui warga sebelum dieksploitasi, mengingat eksploitasi akan segera dilakukan. Jadi hal-hal ini yang membuat kami akhirnya menemui Uskup Frans Monteiro untuk menyampaikan dugaan manipulasi kepada umat di Stasi Watuwawer.
Dalam pertemuan itu, kami mendengar langsung, Uskup Frans Monteiro menegaskan bahwa sikap penolakan gereja terhadap geothermal tidak berubah. Penolakan ini merupakan sikap gereja secara institusi sehingga Uskup berganti sekalipun, sikap menolak tetap sama.
Bahkan kami juga mendapatkan penjelasan bahwa gereja tidak selesai dalam urusan surat gembala. Gereja sudah melakukan beberapa hal dan kedepannya gereja tetap akan tetap berjuang.
Baca Juga: Suzuki Mobil Lembata Gelar Buka Puasa Bersama dan Santunan 50 Anak Yatim
Selain itu Uskup juga berpesan bahwa umat katolik yang telah dibaptis memiliki tugas profetis. Hal ini kami maknai bahwa FRONTAL dan semua umat katolik harus terus memperjuangkan keadilan bagi yang tertindas namun tetap mengedepankan cinta kasih. Sebab ia juga berpesan agar tetap hati-hati sehingga tidak menimbul konflik horizontal antara sesama umat.
Bagi kami FRONTAL, pesan Uskup ini penting untuk diteruskan ke umat katolik lainnya bahwa gereja sudah berjuang dan umat harus tetap bersuara dengan tetap menjunjung tinggi hukum cinta kasih antara sesama umat Allah sesuai dengan ajaran Kristus.***














Respon (1)