BeritaBlogDaerah

“Berbagai Aksara yang Menjelma”, Karya Frederikus Anwar Geli, Siswa SMAK St. Thomas Aquinas Ruteng

27
×

“Berbagai Aksara yang Menjelma”, Karya Frederikus Anwar Geli, Siswa SMAK St. Thomas Aquinas Ruteng

Sebarkan artikel ini
Foto: Istimewa.
Foto: Istimewa.

RUTENG – Di tengah arus digital yang kian deras, ketika perhatian generasi muda kerap tersedot layar gawai, seorang siswa memilih menekuni dunia literasi dengan cara berbeda. Ia adalah Frederikus Anwar Geli, siswa kelas XII di SMAK St. Thomas Aquinas Ruteng, yang berhasil menerbitkan buku perdananya berjudul “Berbagai Aksara yang Menjelma.”

Buku tersebut resmi diterima Frederikus pada 8 Februari 2026 dan mulai dipasarkan kepada pembaca yang memiliki minat pada karya sastra reflektif. Kehadirannya menjadi bukti bahwa semangat literasi di kalangan pelajar tetap tumbuh di tengah dominasi teknologi.

Buku “Berbagai Aksara yang Menjelma”bukan sekadar kumpulan tulisan. Karya ini merekam perjalanan batin seorang remaja yang menjadikan kata-kata sebagai ruang refleksi. Melalui puisi dan prosa pendek, Frederikus mengangkat tema kehidupan, persahabatan, iman, kegelisahan remaja, hingga harapan akan masa depan.

Baca Juga: Distribusi BBM Subsidi di Lembata: Bupati Tegaskan Pengawasan Ketat

“Menulis adalah cara saya berdialog dengan diri sendiri,” ungkap Frederikus saat diwawancarai pada Senin, 23 Februari 2026, di Ruteng.

Baginya, aksara bukan sekadar rangkaian huruf, melainkan medium yang mampu menjelma menjadi gagasan, emosi, dan harapan. Judul buku tersebut dipilih sebagai simbol transformasi—bagaimana huruf-huruf sederhana dapat berubah menjadi makna yang hidup dan menyentuh.

Perjalanan Pendidikan

Frederikus Anwar Geli lahir di Kampung Lewat, Desa Lewat, Manggarai Barat, pada 8 Mei 2006. Pendidikan dasarnya ditempuh di SDI Benteng Deda,Kecamatan Macang Pacar.

Baca Juga: Pemerintah Lembata Percepat Sertifikasi TPU, Cegah Konflik Kepemilikan Lahan

Ia kemudian melanjutkan pendidikan ke SMP Negeri 3 Macang Pacar sebelum akhirnya bersekolah di SMAK St. Thomas Aquinas Ruteng.

Ketertarikannya pada dunia tulis-menulis mulai tumbuh sejak bangku sekolah menengah. Kebiasaan mencatat pikiran dan pengalaman pribadi berkembang menjadi kegemaran menulis puisi dan esai pendek. Dukungan guru Bahasa Indonesia serta lingkungan sekolah yang aktif mendorong kegiatan literasi turut memperkuat semangatnya.

Proses dan Tantangan

Proses penyusunan buku ini memakan waktu berbulan-bulan. Frederikus harus membagi waktu antara kegiatan belajar, tugas sekolah, serta proses penyuntingan naskah. Tantangan terbesar, menurutnya, bukan hanya soal teknis penulisan, melainkan menjaga konsistensi dan keberanian untuk membagikan karya pribadi kepada publik.

Baca Juga: Membangun Solidaritas Ekonomi sebagai Tanda Pengharapan

Buku ini memuat refleksi tentang realitas sosial dan spiritualitas. Pembaca diajak menyelami sudut pandang remaja yang peka terhadap kondisi sekitar, termasuk kegelisahan akan masa depan serta lunturnya empati sosial. Nilai iman menjadi fondasi kuat dalam setiap tulisannya, selaras dengan latar pendidikan di sekolah Katolik.

Prestasi dan Inspirasi

Sebelum menerbitkan buku, Frederikus telah menorehkan prestasi dalam ajang penulisan puisi tingkat SMA/SMK yang diselenggarakan oleh Red Gorden Media. Pengalaman tersebut semakin menguatkan kepercayaan dirinya untuk melangkah lebih jauh di dunia literasi.

Ia menegaskan, penerbitan buku ini bukan semata-mata untuk keuntungan finansial.

Baca Juga: DWP RSUD Larantuka Gelar Aksi Pungut Sampah Peringati Hari Peduli Sampah Nasional

“Saya tidak pernah membutuhkan uang lebih dari proses jual buku ini. Saya hanya ingin membuktikan bahwa kemampuan yang saya peroleh selama belajar di sekolah bisa diwujudkan dalam karya nyata,” ujarnya.

Frederikus berharap bukunya dapat menjadi teman refleksi bagi para pembaca, khususnya kalangan remaja. Ia ingin menunjukkan bahwa setiap orang memiliki cerita yang layak untuk dituliskan, serta bahwa proses belajar di sekolah tidak berhenti pada teori, melainkan dapat diwujudkan dalam tindakan nyata.

Karya Frederikus menjadi bukti bahwa budaya literasi di SMAK St. Thomas Aquinas Ruteng tidak berhenti pada pembelajaran di kelas. Sekolah mampu melahirkan karya konkret yang mencerminkan pengembangan bakat, pemikiran kritis, dan kedewasaan spiritual.

Baca Juga: Menemukan Kepingan Surga yang Tertinggal di Don Poho, Desa Dolulolong

Di usia yang masih muda, Frederikus Anwar Geli membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah alasan untuk berhenti bermimpi. Dari aksara sederhana, ia menghadirkan karya bermakna—menunjukkan bahwa literasi tetap hidup dan menjelma dalam diri generasi muda.

Sebagai informasi tambahan, buku kedua karya Frederikus Anwar Geli saat ini sedang dalam proses penerbitan. Menurut Frederikus, buku tersebut dijadwalkan resmi diluncurkan pada Maret 2026 mendatang.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *