Pendidikan

Menyongsong HPN 2026, FJL Sambangi Ponpes Al-Fatah Lembata

14
×

Menyongsong HPN 2026, FJL Sambangi Ponpes Al-Fatah Lembata

Sebarkan artikel ini
Menyongsong HPN 2026, FJL Sambangi Ponpes Al Fatah Lembata. Foto: Harianwarga/Istimewa.
Menyongsong HPN 2026, FJL Sambangi Ponpes Al Fatah Lembata. Foto: Harianwarga/Istimewa.

LEMBATA – Menyongsong Hari Pers Nasional pada 09 Februari 2026 mendatang, jurnalis se-Kabupaten Lembata yang tergabung dalam organisasi pers Forum Jurnalis Lembata (FJL) melakukan anjangsana silaturrahim ke Yayasan Pondok Pesantren Al- Fatah, Desa Waowala, Kecamatan Ile Ape, Kabupaten Lembata.

Di sana, di antara deretan pohon pahlawan putih yang menjulang gagah, berdiri Pondok Pesantren Al Fatah—sebuah oase pendidikan yang tumbuh dari tekad dan keikhlasan.

Para ustaz setempat menamai kawasan itu Al Muhajirun, sebuah hunian baru yang tercipta dari semangat hijrah dan gotong royong.

Baca Juga: Perdana, LBH SIKAP di Percaya Pengadilan Agama Lewoleba layani Posbakum

Dari kejauhan, bangunan-bangunan sederhana berdiri saling berdekatan, termasuk sebuah mushola kecil namun megah—hadiah dari aktris nasional, Prilly Latuconsina, melalui kerabatnya yang pernah bertugas sebagai Kajari Lembata, Muhammad Azrizal.

Namun kemegahan mushola itu hanyalah satu dari sekian kisah kecil yang menyusun sejarah pesantren ini.

Di bukit ini, segala sesuatu dibangun dari niat baik. Bahkan sebuah kandang ayam pernah disulap menjadi ruang kelas demi memastikan para santri tetap bisa belajar.

Baca Juga: Realisasi Pendapatan Daerah 2025 Capai 96,42 Persen, PAD Lembata Naik dari Tahun Sebelumnya

Ketika Forum Jurnalis Lembata (FJL) berkunjung menyerahkan tali asih, sambutan dari Ustad Abdurahman Lagoday, A.Ag, Ustad Hafid Nai, S.Sos.dan santri terasa begitu hangat. Mereka kini memasuki angkatan ketiga—tanda bahwa pesantren ini bukan lagi percobaan, melainkan harapan yang sedang tumbuh.

Kunjungan para jurnalis pada Sabtu (31/01/2026) jadi bagian dari aksi sosial dalam menyongsong Hari Pers Nasional (HPN) yang jatuh pada 9 Februari 2026.

Rombongan FJL hadir lengkap, dipimpin Ketua FJL Alexander Taum (Media Indonesia/AdabNews), Sekretaris Kristianus Boro (Suluh Nusa), Bendahara Hiero Bokilia (VictoryNews/LembataNews), Ketua Panitia HPN Mikael Kedang (AktualitaNTT), serta sejumlah anggota lainnya yakni Ben Asan (Kabar Rakyat Terkini), Ahmad (Jurnal Polisi), Asiz Usman (AksaraNews), Roy Rasgulo (LidikNews), Teddy Making (Katawarga.id), Ivan Apelabi (Harianwarga.id), Stenly Leuweheq (MediaSurya.com), dan Bedos si paling muda (Swaralomblen.com) sekaligus Koordinator Pelaksana kegiatan HPN 2026.

Baca Juga: Bupati Lembata Terima Audiensi Bina Sejahtera Baru dan Plan Indonesia, Perkuat Jaringan Muro Pesisir

“Kami berterima kasih atas kesediaan teman-teman jurnalis yang sudah meluangkan waktu datang dan melihat langsung kondisi kami di sini. Beginilah keadaan kami apa adanya,” ungkap Ustadz Abdurrahman.

Ia menjelaskan, jumlah santri Pondok Pesantren Al Fatha saat ini sebanyak 22 orang, terdiri dari santri putra dan putri yang berasal dari berbagai wilayah, seperti Ile Ape, Kedang, Kota Lewoleba, Nagawutung hingga Adonara.

Usai disuguhi santap siang bersama, Ketua FJL Alexander Taum bersama Ben Asan juga memberikan materi dan motivasi kepada para santri, tentang pentingnya pendidikan, literasi, serta peran pers dalam kehidupan bermasyarakat.

Baca Juga: Pemda Lembata dan Bank NTT Perkuat Ekosistem Pembiayaan Peternak Ayam Lokal

Lahir dari Semangat Hijrah

Pesantren Al Fatah Waowala resmi berdiri pada tahun 2018 bersamaan dengan pelaksanaan tablig akbar yang dihadiri Kementerian Agama, MUI, tokoh masyarakat, hingga 800 jamaah.

Ustad Abdurahman Lagoday, A.Ag menerangkan, Pondok ini berdiri di atas lahan hibah seluas 8 hektare, yang kemudian sah masuk dalam wilayah Desa Waowala.

Perjalanan awalnya jauh dari mudah. Namun perhatian pemerintah perlahan berdatangan. Kemenag bahkan sudah enam kali berkunjung, disusul Dinas Sosial dan beberapa tokoh publik seperti Viktor Mado Watun.

Baca Juga: Pemkab Lembata Teken MoU dengan PT Prime Timor, Dorong Pengembangan Perikanan dan Peternakan Berorientasi Ekspor

Yang menarik, seluruh pembangunan dilakukan tanpa proposal. Tanpa permintaan resmi. Para donatur datang sendiri, mengirim bantuan bahkan tanpa nama, sebagian melalui jasa ekspedisi.

“Barang siapa bertakwa, Allah akan mendatangkan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Itu yang kami alami. Anak-anak di sini belajar gratis. Konsumsi habis, pasti ada gantinya,” tutur Ustad Abdurahman Lagoday, A.Ag, salah satu pengasuh.

Gerak Cepat dalam Kemanusiaan

Ketika banjir bandang melanda wilayah Ile Ape, Kabupaten Lembata, Ponpes Al Fatah bergerak tanpa menunggu komando. Sebelum bantuan pemerintah turun, para pengasuh dan santri sudah lebih dulu membuka posko bantuan di Kota Lewoleba.

Baca Juga: Pelabuhan Feri Waijarang Belum Beroperasi, ASDP Sampaikan Permohonan Maaf dan Komitmen Tindak Lanjut

“Bencana kemanusiaan tidak mengenal sekat. Kita bergerak karena panggilan kemanusiaan,” kata Ustad Abdurahman Lagoday yang diamini Ustad Hafid Nai.

Dari bukit sunyi di Waowala, mereka melangkah ke pusat kota membawa semangat yang sama: melayani.

Pendidikan Moderat di Atas Bukit

Saat ini pesantren memiliki tujuh ustaz–ustazah, dua di antaranya tinggal di lokasi. Pendidikan setara MTs atau SMP dengan masa belajar tiga tahun. Kurikulumnya mengikuti standar Kemenag, namun diperkaya pembinaan khas pesantren:Tahfiz Al-Qur’an Bahasa Arab, Kultum tiga bahasa.

Baca Juga: Wakil Bupati Lembata Buka Konsultasi Publik Rancangan Awal RKPD Tahun 2027

Beberapa santri telah menorehkan prestasi hingga tingkat nasional. Ada yang melanjutkan pendidikan ke Pulau Jawa. Mereka datang dari berbagai penjuru Lembata: Adonara Barat, Kedang, Meko, Waowala, hingga Amakaka, Yang lebih penting, pesantren ini menegakkan nilai moderasi.

“Ekstremisme tidak dibenarkan dalam Islam. Kami mengajarkan kebenaran dan moderasi,” tegas Ustad Abdurahman Lagoday dan Ustad Hafid Nai, pengasuh Pondok.

Fasilitas Terbatas, Semangat Tak Berbatas

Mulai 2021, ruang belajar dibangun dengan gotong royong. Finishing-nya kemudian dibantu PLN Nusra. Mushola baru rampung pada 2023 berkat bantuan mantan Kajari Lembata dan dukungan artis Prilly Latuconsina.

Baca Juga: BMKG Peringatkan Gelombang Tinggi di Perairan NTT hingga 1 Februari, Dampak Bibit Siklon 98S

Kini pesantren sedang membangun asrama putri secara swadaya. Ada pula lahan kebun yang dikelola bersama santri untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari.

“Ada kemauan, ada jalan. Kalau tidak ada kemauan, ada seribu alasan,” begitu moto para pembina.

Berlari Mengejar Legalitas

Pengurus saat ini berupaya melengkapi dokumen izin operasional, terutama legalitas IMB yang masih kurang. Meski begitu, semangat mereka tidak pernah redup.

Ponpes Al Fatah Waowala merupakan cabang ke-27 dari pusatnya di Cilengsi, Jawa Barat, diasuh oleh dua penggerak utama: Ustad Abdurahman Lagoday, A.Ag dan Ustad Hafid Nai, S.Sos. Di tangan merekalah cahaya dari bukit Al Muhajirun terus menyala—meski kecil, tapi cukup menerangi masa depan anak-anak dari pelosok Lembata.

Baca Juga: Di Lewokurang, Bupati Lembata Resmikan Air Bersih dan Serahkan Aset Terbangun Wai Wuw ke Pemerintah Desa

Cahaya Itu Terus Menyala

Dengan segala keterbatasan, Ponpes Al Fatah Waowala berdiri sebagai bukti bahwa pendidikan tidak selalu lahir dari gedung megah, tapi dari hati yang ingin mengabdi. Dari orang-orang yang yakin bahwa “ikhlas” adalah daya yang lebih kuat daripada modal apa pun.

Dari bukit sunyi di Waowala, sebuah pesan sederhana mengalir: Harapan tidak pernah benar-benar padam. Ia hanya menunggu seseorang untuk menjaganya tetap menyala.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *