LARANTUKA – Ribuan umat Katolik memadati Gereja Katedral Reinha Rosari Larantuka, Kamis pagi (12/02/2026), untuk mengikuti Misa Pontifikal (khusuk) yang dipimpin oleh Uskup Larantuka, Monsinyur (Mgr) Yohanes Hans Monteiro.
Dalam homilinya pada Misa Pontifikal yang berlangsung khidmat, Mgr. Hans menegaskan bahwa pembangunan Gereja tidak semata bertumpu pada program-program besar.
Ia mengingatkan, gereja justru dibangun dari proses rekonsiliasi iman, kesediaan untuk mendengarkan satu sama lain, kerendahan hati untuk mengakui kesalahan, keberanian untuk saling mengampuni, serta komitmen untuk berjalan bersama.
Menurut Mgr. Hans, pertumbuhan gereja tidak pertama-tama diukur dari gerak keluar, melainkan dari perjalanan ke dalam diri umat. Pertumbuhan itu tampak dalam kedewasaan iman, pengenalan yang semakin mendalam akan Kristus, serta kasih yang diwujudkan secara nyata dalam kehidupan bersama.
“Paulus mengingatkan kita akan bahaya ketidakdewasaan iman. Mudah diombang-ambingkan, mudah diadu domba, muda terhasut ke jalan yang menyesatkan. Dulu waktu kami frater, di pasar maumere, banyak pemain dadu, dia goyang-goyang begini uang hilang, frater main judi online, main-main uang hilang, ini kita mudah diombang ambingkan oleh pemain dadu yang licik,” ungkap Mgr Hans.
Ia juga mengatakan para pelayan gereja dipanggil bukan untuk mencari kuasa melainkan untuk melengkapi umat agar seluruh gereja bertumbuh bersama.
Baca Juga: Alexander Taum; Informasi Ibarat Oksigen, Peran Pers Menyediakan Oksigen Yang Sehat Bagi Publik
“Gereja kita mungkin kecil dan sederhana tapi tidak pernah kecil di mata Allah,”tutupnya.
Diketahui, Misa Pontifikal, artinya dipimpin langsung oleh Uskup mewakili Takta Suci ini menandai dimulainya pelayanan publik Mgr Hans Monteiro sebagai gembala baru atau uskup Keuskupan Larantuka setelah ditahbiskan di Gereja Katedral Reinha Rosari Larantuka, Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).
Pada momen liturgi agung ini, Mgr Hans Monteiro menggunakan seluruh atribut episkopalnya untuk pertama kali dalam kapasitas penuh sebagai gembala, mulai dari mitra, cincin episkopal, tongkat kegembalaan, mengenakan salib pectoral, dan lambang episkopal atau Coat of Arms.
Baca Juga: HPN 2026 di Lembata, Pers Didorong Kritis, Beretika, dan Berpihak pada Kepentingan Publik
Sebelum memasuki gereja, Mgr Hans Monteiro terlebih dahulu memberkati dan memercikan air berkat kepada para umat di halaman depan Gereja Katedral Reinha Rosari.
Selanjutnya gembala baru Keuskupan Larantuka ini bersama para uskup disambut dengan Tarian hedung (tarian tradisional masyarakat Lamaholot) menuju altar gereja.***














