Berita

Menemukan Kedamaian dalam Kesederhanaan

48
×

Menemukan Kedamaian dalam Kesederhanaan

Sebarkan artikel ini
Tampak sebuah altar dengan salib besar dan patung Yesus Kristus yang disinari cahaya biru lembut. Di sekelilingnya terdapat panel dekoratif bermotif salib dan burung merpati, melambangkan iman dan perdamaian. Foto: Istimewa.
Tampak sebuah altar dengan salib besar dan patung Yesus Kristus yang disinari cahaya biru lembut. Di sekelilingnya terdapat panel dekoratif bermotif salib dan burung merpati, melambangkan iman dan perdamaian. Foto: Istimewa.

LEMBATA – Dalam hiruk pikuk kehidupan modern, kita sering kali terjebak dalam rutinitas yang melelahkan. Pekerjaan, tanggung jawab keluarga, tuntutan sosial, hingga arus informasi yang tiada henti membuat pikiran kita penuh sesak.

Tidak jarang, kita merasa kehilangan arah dan bertanya-tanya: apa sebenarnya makna dari semua kesibukan ini? Renungan hari ini mengajak kita untuk kembali menengok ke dalam diri, menemukan kedamaian dalam kesederhanaan, dan belajar menghargai hal-hal kecil yang sering terlewatkan.

Kesibukan yang Menyita Perhatian

Setiap pagi, banyak dari kita memulai hari dengan daftar panjang pekerjaan yang harus diselesaikan. Target, deadline, dan ekspektasi membuat kita berlari tanpa henti.

Baca Juga: Menemukan Kepingan Surga yang Tertinggal di Don Poho, Desa Dolulolong

Namun, pernahkah kita berhenti sejenak untuk menyadari bahwa hidup bukan hanya tentang pencapaian besar? Hidup juga tentang momen sederhana: secangkir kopi hangat di pagi hari, senyum anak kecil, atau sapaan ramah dari tetangga. Sayangnya, momen-momen kecil ini sering tertutup oleh ambisi yang terlalu besar.

Kesibukan memang penting, tetapi jika tidak diimbangi dengan kesadaran, ia bisa mencuri kebahagiaan. Renungan hari ini mengingatkan kita bahwa kebahagiaan sejati tidak selalu datang dari hal-hal besar, melainkan dari kemampuan kita menikmati hal-hal kecil dengan penuh syukur.

Kesederhanaan sebagai Jalan Kedamaian

Kesederhanaan bukan berarti hidup tanpa cita-cita atau ambisi. Kesederhanaan adalah sikap hati yang mampu menerima keadaan dengan lapang dada, tanpa harus selalu membandingkan diri dengan orang lain.

Baca Juga: Kuasa Hukum Apresiasi PN Lembata, Gugatan Sengketa Tanah Kaohua Tak Lolos Formil

Dalam kesederhanaan, kita belajar bahwa tidak semua hal harus dimiliki, tidak semua keinginan harus dipenuhi, dan tidak semua rencana harus berjalan sempurna.

Ketika kita mampu hidup sederhana, kita akan lebih mudah menemukan kedamaian. Tidak ada lagi rasa iri terhadap pencapaian orang lain, tidak ada lagi kegelisahan karena merasa tertinggal. Yang ada hanyalah rasa syukur atas apa yang sudah dimiliki.

Kesederhanaan mengajarkan kita untuk fokus pada hal-hal yang benar-benar penting: kesehatan, keluarga, persahabatan, dan kebahagiaan batin.

Baca Juga: MAN Lembata Klarifikasi Isu Pungli dan Nepotisme: Infaq Komite Rp70 Ribu Bukan Pungutan Liar

Belajar dari Alam

Alam adalah guru terbaik dalam hal kesederhanaan. Pohon tidak pernah iri pada bunga, dan bunga tidak pernah merasa lebih rendah dari gunung. Semua berjalan sesuai perannya masing-masing. Alam mengajarkan kita bahwa setiap makhluk memiliki keindahan dan fungsi sendiri.

Jika kita mau belajar dari alam, kita akan menyadari bahwa hidup tidak perlu dipaksakan. Semua akan indah pada waktunya.

Bayangkan ketika kita duduk di tepi pantai, mendengar suara ombak, atau melihat matahari terbenam. Momen itu sederhana, tetapi mampu menghadirkan ketenangan luar biasa. Renungan hari ini mengajak kita untuk lebih sering menyatu dengan alam, karena di sanalah kita bisa menemukan kembali keseimbangan yang hilang.

Baca Juga: Program 100 Hari Bupati Flores Timur Tercoreng, Proyek Rp11 Miliar Mangkrak

Menghargai Waktu

Salah satu bentuk kesederhanaan yang sering dilupakan adalah menghargai waktu. Kita terlalu sibuk mengejar masa depan hingga lupa menikmati masa kini. Padahal, waktu adalah harta paling berharga yang tidak bisa dibeli. Setiap detik yang berlalu tidak akan pernah kembali.

Oleh karena itu, mari belajar untuk lebih hadir dalam setiap momen. Saat makan bersama keluarga, letakkan ponsel sejenak. Saat berbincang dengan sahabat, dengarkan dengan penuh perhatian. Saat bekerja, lakukan dengan sepenuh hati tanpa tergesa-gesa.

Menghargai waktu berarti menghargai hidup itu sendiri. Dengan begitu, kita tidak hanya menjalani hari, tetapi juga benar-benar hidup di dalamnya.

Baca Juga: Bupati Lembata Ikuti Misa Rabu Abu di Waipukang, Ajak Umat Jadikan Prapaskah Momentum Pertobatan dan Harapan

Renungan untuk Hari Ini

Hari ini, mari kita berhenti sejenak dari segala kesibukan. Tarik napas dalam-dalam, rasakan udara yang masuk ke paru-paru, dan syukuri bahwa kita masih diberi kesempatan untuk hidup. Renungan ini bukan sekadar kata-kata, melainkan ajakan untuk benar-benar mengubah cara pandang kita terhadap kehidupan.

  • Apakah kita sudah cukup bersyukur atas hal-hal kecil yang kita miliki?
  • Apakah kita sudah belajar menerima keadaan dengan hati yang sederhana?
  • Apakah kita sudah meluangkan waktu untuk benar-benar hadir bagi orang-orang yang kita cintai

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini akan menentukan kualitas hidup kita. Kebahagiaan bukan soal seberapa banyak yang kita miliki, tetapi seberapa besar rasa syukur yang kita tanamkan.

Baca Juga: Deklarasi Warga Lewoleba Barat: Komitmen Bersama Atasi Sampah di Kali Waikomo

Penutup

Renungan hari ini mengingatkan kita bahwa kedamaian sejati tidak ditemukan dalam kesibukan yang tiada henti, melainkan dalam kesederhanaan yang penuh makna.

Hidup sederhana bukan berarti hidup tanpa tujuan, tetapi hidup dengan hati yang lapang, penuh syukur, dan mampu menikmati setiap momen.

Mari kita belajar untuk lebih menghargai waktu, lebih dekat dengan alam, dan lebih hadir dalam kehidupan sehari-hari.

Baca Juga: Bupati Lembata Lantik Pengurus BAZNAS 2025–2030, Dorong Tata Kelola Zakat Profesional

Dengan begitu, kita tidak hanya menjalani hari, tetapi juga menemukan makna di dalamnya. Semoga bacaan dan renungan ini menjadi pengingat bahwa kebahagiaan sejati ada di dalam diri, bukan di luar sana. Hari ini adalah kesempatan baru untuk hidup lebih sederhana, lebih damai, dan lebih bahagia.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *