Penundaan ETMC XXXV Picu Kekecewaan Publik Flores Timur

Harianwarga.id
23 Okt 2026 03:03
2 menit membaca

PENUNDAAN Piala Gubernur Liga IV El Tari Memorial Cup (ETMC) XXXV dari November 2026 ke Maret 2027 bukan sekadar perubahan jadwal. Keputusan ini memantik gelombang kekecewaan, keresahan, bahkan kecurigaan publik Flores Timur terhadap tata kelola sepak bola di NTT.

Surat PSSI NTT Nomor: 47/PSSI-NTT/X/2026, ditandatangani Plt. Ketua PSSI NTT, P. Christian Mboeik, menyebut penundaan dilakukan setelah koordinasi dengan PSSI Pusat terkait regulasi baru Liga IV.

Namun Ketua Panitia ETMC XXXV, Laurensius Yitno Wada, ketika dihubungi media ini melalui sambungan seluler, Kamis, 22 Oktober 2026 malam WITA, menilai keputusan itu tidak disertai dokumen resmi.

“Kami sudah menerima surat itu, tetapi belum ada regulasi sah yang mendukung keabsahannya,” tegasnya.

Publik pun bertanya-tanya: apakah ini keputusan administratif yang sah, atau sekadar manuver politik olahraga?

Benturan dengan Tradisi Religius

Kekecewaan masyarakat pecinta bola Flores Timur (Masgibol) semakin dalam. Jadwal baru Maret 2027 bertepatan dengan Semana Santa, Paskah, dan Idul Fitri.

Bagi Larantuka yang dikenal dengan tradisi religiusnya, benturan ini bukan hal sepele. Bagaimana mungkin sebuah turnamen besar digelar di tengah momentum sakral umat beragama?

Sejak persiapan, Pemda Flores Timur dan panitia telah menggelontorkan dana besar untuk renovasi Stadion Ile Mandiri, Lapangan Gawerato, serta koordinasi lintas sektor. Kini publik menuntut kejelasan: apakah biaya itu ditanggung penuh oleh daerah, atau ada mekanisme penggantian dari PSSI?

Penundaan berbulan-bulan jelas menambah beban finansial, sementara regulasi dari pusat masih abu-abu.

Dugaan Kepentingan Politik

Di balik penundaan, muncul dugaan adanya kepentingan terselubung. Publik mencurigai keputusan ini terkait Kongres Asprov PSSI NTT yang akan memilih ketua baru. Penundaan dianggap sebagai strategi mengulur waktu hingga kongres selesai.

Meski belum ada bukti konkret, isu ini memperkuat persepsi bahwa sepak bola NTT tak lepas dari tarik-menarik kepentingan politik.

ETMC bukan hanya kompetisi. Ia adalah panggung kebanggaan daerah, ruang pembinaan pemain muda, dan simbol harga diri Flores Timur. Penundaan ini bukan sekadar soal jadwal, melainkan pukulan terhadap antusiasme publik yang sudah terbangun.

Kini, publik menunggu langkah konkret dari PSSI Pusat dan Asprov NTT. Kejelasan regulasi, kepastian jadwal, dan transparansi anggaran menjadi tuntutan utama. Tanpa itu, keraguan masyarakat akan semakin menguat.

Meski kecewa, semangat Flores Timur belum padam. Bagi mereka, ETMC bukan sekadar sepak bola. Ia adalah identitas, kebanggaan, dan harga diri yang tak boleh dikorbankan oleh kepentingan sesaat.***

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x