Harian Warga – Forum Parlemen Jalanan (Formalen) bersama Aliansi Ekspedisi Lembata (Axel) mendesak PT Pelni agar menambahkan Pelabuhan Laut Lewoleba sebagai salah satu tujuan trip KM Egon, selain Pelabuhan Laut Waingapu di NTT.
Hal ini disampaikan oleh Ciprianus Pito Lerek dari Formalen saat bertemu dengan pihak Pelni Sub Cabang Lembata. Menurutnya, kerusakan Pelabuhan Feri Waijarang berdampak langsung pada naiknya harga barang di Lembata, Rabu (06/05/2026).
“Bukan saja ekspedisi yang susah, tapi masyarakat juga kesulitan karena harga barang naik. Ini yang kita tidak mau,” ujar Pedro usai pertemuan.
Baca Juga: Bupati Lembata Lantik Penjabat Kepala Desa Leuwayan, Dorong Sinergi Percepatan Pembangunan
Broin Tolok menambahkan, sebagai kabupaten kepulauan, seluruh aktivitas ekonomi Lembata bergantung pada jalur laut.
Ia menegaskan bahwa Formalen bersama Axel sudah berdiskusi dengan Pemerintah Kabupaten Lembata dan bahkan melakukan aksi damai terkait rusaknya Pelabuhan Waijarang.
“Tidak ada solusi jangka pendek. Dalam perjalanan muncul ide dari Rivan Junior, agar KM Egon membuka trip ke Lembata,” jelas Broin.
Baca Juga: Bupati Lembata Hadiri Rapat Virtual Persiapan HLUN 2026 dan Pembangunan Sekolah Rakyat di NTT
Menurutnya, ada 64 unit kendaraan ekspedisi yang sudah terdata mengambil rute Lewoleba–Surabaya, dan jumlah sebenarnya lebih banyak.
“Kalau kapal Egon bisa langsung ke Surabaya, harga barang akan lebih murah,” tambahnya.
Kepala Pelni Sub Cabang Lembata, Figur Sahara Fahrul Ridho, mengungkapkan bahwa Bupati Lembata, Petrus Kanisius Tuaq, sudah menyampaikan permintaan resmi terkait penambahan rute KM Egon. Hal ini juga telah dibahas bersama Kepala Pelni Cabang Larantuka, Yulianto, dan Pemkab Lembata.
“Permohonan ini tetap kami terima, namun masih menunggu keputusan Kementerian Perhubungan. Pengajuan dari Pemda, Formalen, dan Axel sudah kami teruskan ke pusat karena KM Egon bukan hanya untuk ekspedisi, tapi kebutuhan seluruh masyarakat Lembata,” kata Ridho.
Sementara itu, pengusaha ekspedisi Rivan Junior menuturkan bahwa jalur Lewoleba–Surabaya sudah tidak beroperasi lebih dari enam bulan, sehingga pengusaha dan sopir ekspedisi sangat terdampak.
“Kami tidak minta kontrak voyage dengan Pemkab Sumba Timur diubah, hanya ditambah trip ke Lewoleba,” ujarnya.
Baca Juga: Tanpa Aksi Jalanan, Buruh Pelabuhan Lewoleba Rayakan May Day dengan Ibadah
Bagian Operasi Pelni Sub Cabang Lembata, Koten Agustinus, menegaskan bahwa usulan ini akan tetap diproses.
“Kabupaten kepulauan seperti Lembata memang membutuhkan tambahan armada. Dengan data yang ada, dampak ekonominya jelas terasa. Sambil berjalan, kita tetap berkomunikasi,” katanya.
Agustinus juga berpesan agar Formalen dan Axel tetap memberikan kepercayaan kepada pemerintah dalam mencari solusi. “Usul saran ini akan kita proses,” tutupnya.***
















Respon (1)