LEMBATA – Di ujung timur Nusa Tenggara Timur, tersembunyi sebuah lanskap yang seolah menjadi kepingan surga yang tertinggal di bumi. Tebing Don Poho, yang berdiri gagah di Desa Dolulolong, bukan sekadar bentangan alam yang memanjakan mata, melainkan juga sebuah ruang di mana manusia dan alam masih hidup dalam harmoni yang jarang ditemukan di tempat lain.
Cerita yang Ditulis Ombak di Tebing Don Poho
Setiap kali ombak Samudra Flores menghantam tebing Don Poho, seakan ada cerita yang ditulis di dinding batu itu. Cerita tentang perjalanan waktu, tentang keteguhan alam menjaga dirinya, dan tentang manusia yang memilih untuk hidup berdampingan, bukan mendominasi.
Tebing yang menjulang dengan warna keabu-abuan, berpadu dengan biru laut yang jernih, menciptakan panorama yang membuat siapa pun terdiam sejenak, meresapi keindahan yang begitu murni.
Baca Juga: Kuasa Hukum Apresiasi PN Lembata, Gugatan Sengketa Tanah Kaohua Tak Lolos Formil
Bagi warga Dolulolong, Don Poho bukan hanya destinasi wisata. Ia adalah bagian dari kehidupan sehari-hari, tempat anak-anak bermain di tepian pantai, nelayan menambatkan perahu, dan orang tua duduk memandang cakrawala sambil merenungkan perjalanan hidup. Ombak yang terus menulis kisah di tebing itu menjadi saksi bisu atas hubungan yang terjalin antara manusia dan alam.
Harmoni yang Tetap Terjaga
Di tengah arus modernisasi yang kerap mengikis nilai-nilai tradisi, Desa Dolulolong masih teguh menjaga keseimbangan. Warga setempat percaya bahwa alam adalah sahabat yang harus dihormati.
Mereka tidak sekadar memanfaatkan laut untuk mencari ikan, tetapi juga merawatnya dengan kearifan lokal yang diwariskan turun-temurun.
Baca Juga: MAN Lembata Klarifikasi Isu Pungli dan Nepotisme: Infaq Komite Rp70 Ribu Bukan Pungutan Liar
Tradisi “sasi laut” misalnya, menjadi bentuk nyata bagaimana masyarakat Dolulolong menjaga keberlanjutan ekosistem. Pada periode tertentu, warga sepakat untuk tidak mengambil hasil laut di kawasan tertentu, memberi kesempatan bagi alam untuk memulihkan diri. Ketika masa sasi berakhir, hasil laut yang melimpah menjadi berkah bersama.
Harmoni ini bukan hanya menjaga kelestarian alam, tetapi juga memperkuat ikatan sosial antarwarga. Gotong royong, musyawarah, dan rasa saling percaya menjadi fondasi yang membuat Dolulolong tetap kokoh menghadapi perubahan zaman.
Pesona yang Mengundang
Bagi wisatawan yang datang, Don Poho menawarkan pengalaman yang lebih dari sekadar panorama. Dari atas tebing, mata akan dimanjakan oleh hamparan laut biru yang tak berujung, sementara di bawah, deburan ombak menciptakan simfoni alam yang menenangkan.
Baca Juga: Program 100 Hari Bupati Flores Timur Tercoreng, Proyek Rp11 Miliar Mangkrak
Saat senja tiba, langit Dolulolong berubah menjadi kanvas raksasa dengan gradasi jingga, merah, dan ungu, seolah menegaskan bahwa keindahan sejati tak membutuhkan polesan buatan.
Tak sedikit pengunjung yang menyebut Don Poho sebagai “kepingan surga yang tertinggal.” Sebuah metafora yang lahir dari rasa kagum, sekaligus pengakuan bahwa tempat ini menyimpan keindahan yang tak ternilai.
Harapan di Tengah Keindahan
Meski pesona Don Poho semakin dikenal, warga Dolulolong tetap berharap bahwa kunjungan wisatawan tidak mengganggu keseimbangan yang telah lama mereka jaga. Mereka ingin agar setiap orang yang datang membawa pulang bukan hanya foto indah, tetapi juga kesadaran untuk menghormati alam.
Baca Juga: Penguatan Tata Kelola Zakat: BAZNAS Lembata Jadi Motor Pemberdayaan Umat
Pemerintah Desa bersama masyarakat kini tengah merancang konsep ekowisata yang berkelanjutan. Tujuannya sederhana: memperkenalkan Don Poho ke dunia, sekaligus memastikan bahwa harmoni antara manusia dan alam tetap terjaga.
Don Poho di Desa Dolulolong bukan sekadar destinasi wisata. Ia adalah simbol tentang bagaimana manusia bisa hidup berdampingan dengan alam, saling menjaga, saling menghormati.
Ombak yang menulis cerita di tebing itu adalah pengingat bahwa keindahan sejati lahir dari harmoni, bukan dari eksploitasi.
Menemukan kepingan surga yang tertinggal di Don Poho berarti menemukan kembali nilai-nilai yang sering terlupakan: kesederhanaan, kebersamaan, dan penghormatan pada alam. Di jantung Desa Dolulolong, harmoni itu masih hidup, dan semoga tetap abadi.***














