BeritaDaerahEkonomi

Sawah Menguning, Jalan Rusak: Kesenjangan Infrastruktur Mengancam Ketahanan Pangan Waikomo

16
×

Sawah Menguning, Jalan Rusak: Kesenjangan Infrastruktur Mengancam Ketahanan Pangan Waikomo

Sebarkan artikel ini
Sawah Menguning, Jalan Rusak: Kesenjangan Infrastruktur Mengancam Ketahanan Pangan Waikomo. Foto: Istimewa.
Sawah Menguning, Jalan Rusak: Kesenjangan Infrastruktur Mengancam Ketahanan Pangan Waikomo. Foto: Istimewa.

LEMBATA – Hamparan sawah Urumitem yang menghijau dan bulir padi yang menguning seakan menutupi sebuah kenyataan pahit, para petani Waikomo masih harus berjuang melewati jalan rusak parah untuk bisa bertani.

Dalam dialog terbuka pada pengukuhan pengurus Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) Aubala, Senin (03/03/2026), 145 petani menyampaikan empat permintaan mendesak kepada Bupati Lembata, P. Kanisius Tuaq, melalui Yosep Meran Lagaor, anggota ke-145.

Permintaan pertama adalah perbaikan akses jalan menuju persawahan dan bendungan Urumitem.

Baca Juga: Membuka Tabligh Akbar di Masjid Ummul Quroh: Wabup Nasir Tekankan Kepekaan Sosial dan Kerukunan

Kondisi jalan yang berlumpur, sempit, dan rusak parah tidak hanya membahayakan keselamatan petani tetapi juga menghambat distribusi pupuk dan hasil panen.

Ironisnya, sebagian petani sendiri mulai memperlebar petak sawah ke badan jalan, semakin memperburuk kondisi akses.

“Sudah air tergenang di jalan, jalan juga semakin kecil,” ungkap Yosep Meran Lagaor.

Baca Juga: Sekda Lembata Ikuti Rakor Bersama Gubernur NTT Bahas Dampak Batas Belanja Pegawai 30 Persen terhadap PPPK

Keluhan ini menegaskan adanya ketimpangan antara potensi produksi yang tinggi dengan infrastruktur publik yang tertinggal.

Permintaan kedua terkait listrik masuk sawah. Petani menekankan kebutuhan penerangan untuk menjaga padi dari hama saat malam dan memanfaatkan teknologi modern agar tak lagi bergantung pada tenaga manual.

Permintaan ketiga adalah ekspansi lahan persawahan yang masih memungkinkan dibuka dengan alat berat.

Baca Juga: Breaking News! Perang antar Kampung Kembali Terjadi di Flores Timur: Rumah Dibakar, Warga Diminta Waspada

Keempat, mereka mendesak pembangunan rumah edukasi P3A untuk penyimpanan pupuk, obat-obatan, dan kegiatan koordinasi petani, karena ketiadaan fasilitas ini rawan menimbulkan kerusakan material penting.

Namun, di balik aspirasi petani, realitas fiskal Lembata menimbulkan dilema.

Ketua Fraksi Golkar DPRD, Petrus Gero, mengungkapkan bahwa APBD daerah kini terpangkas signifikan akibat pemangkasan anggaran pusat, Rp148 miliar lebih kecil dibanding tahun normal 2024.

Baca Juga: Kemerdekaan Pendidikan Anak Ekasapta Dicabut: Kontroversi Pengeluaran Siswa SDN Kampung Baru

Keterbatasan ini membatasi kemampuan pemerintah menanggapi permintaan prioritas petani.

Satu-satunya celah yang dapat dimanfaatkan adalah pos pembangunan infrastruktur kelurahan, sekitar Rp200 juta per tahun, yang dinilai bisa difokuskan untuk perbaikan jalan Urumitem.

Respon pemerintah sejauh ini bersifat janji dan mitigatif. Bupati Kanis menegaskan akan memperhatikan semua permintaan, tetapi tetap membatasi eksekusi karena fiskal daerah terbatas.

Baca Juga: Wakapolres Lembata I Gede Sucitra Bersama Anggota Bagikan Takjil Ramadhan

Pihak PLN disebut telah menunggu proposal untuk listrik masuk sawah, sementara perbaikan alat pertanian (alsintan) bisa difasilitasi melalui bengkel di dinas pertanian.

Bupati juga menyinggung lahan tidur yang masih luas di sembilan kecamatan, namun keterbatasan alat berat menjadi hambatan ekspansi.

Ironi semakin terasa, produktivitas sawah Waikomo berpotensi tinggi, bantuan pemerintah seperti irigasi tambahan sudah diterima, namun infrastruktur dasar, listrik, dan fasilitas penyimpanan masih terbatas.

Baca Juga: KNPI Kutai Timur Minta APH Periksa Proyek Pengadaan Kendaraan Khusus Senilai Rp 75 Miliar dari APBD 2025

Jika kondisi ini tidak segera ditangani, risiko jangka panjang tidak hanya mengancam kesejahteraan petani tetapi juga ketahanan pangan lokal dan keberlanjutan program unggulan Nelayan Tani Ternak (NTT).

Keempat permintaan petani menjadi cermin ketidakselarasan antara potensi alam yang melimpah dan kapasitas birokrasi yang terbatas, sekaligus tantangan serius bagi pembangunan pertanian di Lembata.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *