HARIAN WARGA – Aliansi Expedisi Lembata (AXEL) bersama Forum Parlemen Jalanan (FORMALEN) menggelar aksi damai di depan Kantor Bupati Lembata, Rabu (08/04/2026).
Puluhan truk ekspedisi dan poster kampanye dibawa sebagai simbol keresahan para pekerja yang terdampak rusaknya dermaga Ferry Waijarang.
Koordinator Umum AXEL dan FORMALEN, Ciprianus Pito Lerek (Pedro), menyampaikan bahwa ratusan pekerja ekspedisi di Kabupaten Lembata terpaksa merumahkan diri dan kehilangan penghasilan selama hampir enam bulan.
Baca Juga: Satresnarkoba Polres Flores Timur Amankan Dua Pengedar Ganja di Pelabuhan Larantuka
Hal ini terjadi setelah dermaga Ferry Waijarang rusak akibat manuver KMP Inerie II pada November 2025.
Dalam pernyataan sikapnya, Pito mendesak Pemerintah Kabupaten Lembata segera bertindak menyelesaikan persoalan pelabuhan feri yang menjadi satu-satunya akses bongkar muat kendaraan roda empat atau lebih di Lembata.
Menurutnya, dampak kerusakan dermaga dirasakan langsung oleh pekerja ekspedisi, pedagang antar pulau, nelayan, hingga konsumen.
Baca Juga: Wapres Gibran Resmikan Festival Paskah di Kupang, Tegaskan Persatuan Bangsa
“Segala daya dan upaya telah dilakukan dengan mendekati berbagai pihak, namun harapan itu tak kunjung mendapatkan jawaban melalui jalan keluar taktis,” ujar Pito.
Selain kehilangan pekerjaan, banyak pekerja kini menghadapi kesulitan membayar angsuran pinjaman di bank dan lembaga keuangan akibat hilangnya pendapatan. Kondisi ini juga memicu kenaikan harga barang karena mobilisasi komoditas harus menggunakan jasa buruh dengan biaya lebih tinggi.
Pedagang antar pulau bahkan sempat melakukan protes spontan di area pelabuhan, sementara nelayan ikut bersuara lantaran distribusi hasil tangkapan terganggu.
Baca Juga: 134 Armada Laut Ikut Prosesi Semana Santa Larantuka, Ribuan Umat Berpartisipasi
AXEL dan FORMALEN menuntut pemerintah daerah segera merealisasikan uji coba sandar kapal ferry dengan Ramp Door pada Kamis, 09 April 2026.
Jika uji coba gagal, mereka menegaskan bahwa dalam dua minggu pemerintah wajib menyediakan pelabuhan alternatif atau darurat dengan biaya ditanggung Pemerintah Kabupaten Lembata dan PT ASDP Indonesia Ferry.***















