Pekerjaan pemancangan tiang dolphin. Foto: Istimewa.Harian Warga – Pekerjaan pemulihan fasilitas sandar kapal di Pelabuhan Ferry Waijarang, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, kini memasuki tahap persiapan pemancangan delapan tiang dolphin oleh kontraktor PT Sobo Rejo, Tangerang, Banten.
Sterilisasi kawasan perairan sedang dikebut dengan mengangkat material konstruksi lama yang roboh serta aksesori dermaga di dasar laut. Langkah ini dilakukan untuk memastikan area kerja aman sebelum pemasangan struktur baru dimulai.
Pelaksana proyek PT Sobo Rejo, Fahrul, mengatakan sterilisasi menjadi tahapan penting agar tiang pancang baru tidak berbenturan dengan sisa struktur lama.
Ia menegaskan seluruh material pemancangan telah tersedia di lokasi.
“Kami sedang melakukan sterilisasi areal untuk persiapan pemancangan tiangnya. Semua material sudah di lokasi dan siap dipancangkan. Setelah tiang terpasang, kami lanjutkan ke pekerjaan struktur,” ujarnya, Rabu (21/10/2026).
Pembersihan tidak hanya dilakukan pada material yang tampak di permukaan, tetapi juga tiang pancang roboh dan aksesori dermaga yang masih tertinggal di dasar laut. Keberadaan material tersebut dinilai berpotensi menghambat pekerjaan konstruksi lanjutan.
“Tiang pancang yang roboh dan aksesori dermaga yang masih di dasar laut harus diangkat terlebih dahulu. Kalau tidak dibersihkan, tiang baru bisa berbenturan dengan tiang lama dan menghambat pekerjaan,” tambahnya.
Sterilisasi ditargetkan selesai Kamis, 22 Oktober 2026. Setelah itu, tim proyek akan menyiapkan perangkat pemancang yang diperkirakan membutuhkan waktu satu hari sebelum pekerjaan utama dimulai.
Sebanyak delapan tiang dolphin akan dipancang, terdiri atas tujuh titik untuk breasting atau penahan kapal saat bersandar dan satu titik sebagai dudukan keyboard, yakni bagian struktur pendukung dermaga. Proses pemancangan diperkirakan berlangsung lima hingga enam hari, menyesuaikan kondisi cuaca dan dinamika perairan.
Fahrul menekankan tantangan pekerjaan di laut, terutama kestabilan peralatan yang dipengaruhi pasang surut dan arus.
“Kami tetap melihat kondisi cuaca, karena air pasang dan arus laut bisa membuat peralatan tidak stabil. Itu menjadi tantangan dalam pekerjaan di laut,” katanya.
Administrasi proyek PT Sobo Rejo, Try, menyebut pihaknya berupaya mengoptimalkan waktu agar pekerjaan rampung sebelum Natal dan Tahun Baru (Nataru). Namun, percepatan tetap bergantung pada kondisi lapangan.
“Kami mengupayakan pekerjaan selesai sebelum Nataru. Pekerjaan akan dimaksimalkan setiap hari dan pembersihan ditargetkan selesai Kamis. Kecepatan pelaksanaan sangat bergantung pada kondisi arus laut,” ujarnya.
Dalam pelaksanaan, PT Sobo Rejo melibatkan tenaga kerja lokal untuk pekerjaan umum, sementara tenaga teknis didatangkan dari Jawa. Pembagian ini dilakukan untuk mendukung kelancaran sekaligus memenuhi kebutuhan keahlian teknis.
Target penyelesaian sebelum Nataru dinilai penting bagi masyarakat Lembata karena fasilitas sandar kapal berperan mendukung mobilitas penumpang dan distribusi barang antarpulau.
Meski demikian, kepastian pemanfaatan kembali fasilitas bergantung pada penyelesaian seluruh tahapan konstruksi dan kesiapan teknis.
Fahrul meminta dukungan masyarakat agar pemulihan fasilitas pelabuhan berjalan sesuai target.
“Kami mohon doa dan dukungan masyarakat. Kami akan mengoptimalkan waktu yang ada dan berusaha memberikan hasil terbaik agar fasilitas breasting yang roboh dapat kembali siap digunakan,” katanya.
Dengan dimulainya tahap sterilisasi, pekerjaan pemulihan Pelabuhan Ferry Waijarang kini memasuki persiapan menuju pemancangan struktur baru.
Keberhasilan memenuhi target sebelum Nataru akan ditentukan oleh kelancaran pembersihan, kesiapan peralatan, kondisi cuaca, serta penyelesaian pekerjaan sesuai standar teknis.***


Tidak ada komentar