LARANTUKA – Dalam rencana untuk merelokasi 5 (lima) desa di kawasan risiko tingkat III ke tempat aman, Pemerintah Daerah (Pemda) Flores Timur saat ini tengah menyiapkan tiga lahan, yakni di Kuhe, Kecamatan Ile Bura, juga Todo dan Kureng di Kecamatan Titehena.
Meski demikian, ke 3 (tiga) lahan yang disediakan tersebut, masyarakat Desa Nawokote yang terdampak erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki di Kecamatan Wulanggitang, Kabupaten Flores Timur, menolak direlokasi yang dibuktikan dengan Surat pernyataan penolakan yang dilengkapi daftar hadir 600 orang.
Diketahui, surat tersebut juga telah diantar ke Bupati Anton Doni Dihen, Wakil Bupati Ignas Boli Uran, Ketua DPRD Albert Ola Sinuor, dan Pemerintah Kecamatan Wulanggitang sejak 5 Februari.
Baca Juga: Ambisi Dorong Sektor Primer, Panen Perdana di Paubokol, Bupati Lembata; Masalah Klasik Tetap Memukau
“Saya yang antar langsung. Masyarakat semua setuju, yang tanda tangan itu mereka yang sudah dewasa dan memiliki KTP,” ujar Gerardus Wolor, Kaur Umum Desa Nawokote.
Selain itu, Tokoh Adat Nawokote, Tobias Lewotobi Puka, mengatakan masyarakat lebih mengusulkan lokasi di selatan kampung, yaitu Tanah bunga, Buewolo, Lamalori, Kojarobet, dan Buewolo, Ola Taneng, dan Garong Taneng.
Lanjutnya, lokasi yang diusulkan tersebut pernah disurvei pemerintah saat awal wacana relokasi mulai didengungkan. Mereka kembali mengusulkannya lantaran tiga lahan yang disiapkan Pemda Flores Timur terlampau jauh dengan kampung asal.
Beberapa alasan mendasar bagi warga Nawokote dalam usulannya;
Pertama, mayoritas warga sebagai petani dan lahan untuk mereka hidup berada di Nawokote. Kesulitan yang lebih berat di waktu mendatang mulai terasa ketika berada di pengungsian Hunian Sementara (Huntara).
Tobias berkata, untuk menyambung hidup dengan menggarap kebun, warga harus menempuh perjalanan sekitar 19 kilometer dari Huntara ke Nawokote dengan ongkos transportasi paling sedikit Rp 20.000 per hari.
Sedangkan 3 (tiga) lokasi relokasi untuk pembangunan Hunian Tetap (Huntap) yang disiapkan Pemda jaraknya lebih jauh dari Nawokote jika dibandingkan dengan Huntara saat ini.
“Kalau satu bulan biayanya Rp 600.000, itu belum termasuk biaya yang lain-lain, misalkan kalau bawa banyak barang,” tandasnya.
Kedua, warga Nawokote punya ritus sakral yang melekat erat dengan Gunung Lewotobi Laki-laki. Tak hanya itu, warga juga gelisah dengan kejelasan relokasi penyintas yang terkatung-katung sejak dua tahun terakhir.
Tobias juga khawatir akan potensi konflik masyarakat di kemudian hari. Demi menghindari gesekan yang bisa saja terjadi mendatang, warga bersepakat mengusulkan lokasi tersebut.
“Kami sejatinya sangat mendukung niat baik pemerintah, tetapi kami mohon segala masukan dan niat baik dari kami ini juga dipertimbangkan,” harapnya.
Bupati Flores Timur, Anton Doni Dihen, belum memberi penjelasan saat dikonfirmasi.
Baca Juga: Alexander Taum; Informasi Ibarat Oksigen, Peran Pers Menyediakan Oksigen Yang Sehat Bagi Publik
Terkait surat yang sudah diantar sebelumnya, Bupati Flores Timur, Anton Doni Dihen menyebut akan membacanya terlebih dahulu.
“Saya baca dulu ade,” ujar Anton lewat whatsapp saat dikonfirmasi dan meminta waktu wawancara.***
















Respon (1)