Opini

Di Balik Laptop Uzur dan Meja Spiker: Semangat Jurnalis Lembata Menyongsong HPN 2026

25
×

Di Balik Laptop Uzur dan Meja Spiker: Semangat Jurnalis Lembata Menyongsong HPN 2026

Sebarkan artikel ini
Di Balik Laptop Uzur dan Meja Spiker: Semangat Jurnalis Lembata Menyongsong HPN 2026. Foto: My.Team.
Di Balik Laptop Uzur dan Meja Spiker: Semangat Jurnalis Lembata Menyongsong HPN 2026. Foto: My.Team.

LEMBATA – DI sebuah rumah tua di Duang, Kotabaru, Kelurahan Lewoleba, Kecamatan Nubatukan, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, denyut kerja jurnalistik terasa hidup.

Bukan dari fasilitas mewah atau ruangan berpendingin udara, melainkan dari bunyi tuts laptop yang dipencet tanpa henti, cangkir kopi yang terus diisi ulang, dan diskusi yang mengalir tanpa jeda.

Di sudut ruangan, Ben Assan tampak serius menatap layar laptop Toshiba hitam miliknya. Laptop itu terlihat uzur—layarnya sudah miring, nyaris terlepas dari engsel, sehingga harus disangga agar tetap nyaman digunakan.

Namun dari perangkat sederhana itulah, wartawan Kabar Rakyat Terkini sekaligus aktivis lingkungan ini menyiapkan materi yang akan ia bawakan pada puncak Peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026, yang dijadwalkan berlangsung 09 Februari mendatang.

Tak jauh dari Ben, Sandro Wangak sibuk dengan laptop Apple miliknya. Jemarinya lincah menyusun Term of Reference (TOR) yang akan dibagikan kepada para narasumber dalam rangkaian kegiatan HPN 2026.

Di sela-sela itu, ia juga menata daftar undangan peserta. Sebagai Sekretaris Forum Jurnalis Lembata (FJL), urusan surat-menyurat, konsep kegiatan, hingga administrasi memang sudah menjadi “menu harian” Sandro.

Laptop yang lebih modern itu menjadi alat bantu utama dalam mengurai berbagai urusan organisasi.

Kontras antara laptop tua dan perangkat yang lebih mutakhir tak menjadi soal.

Di sekretariat FJL, semua berpadu dalam satu tujuan: menyukseskan HPN 2026 di Lembata, dengan segala keterbatasan yang ada.

Di Balik Laptop Uzur dan Meja Spiker: Semangat Jurnalis Lembata Menyongsong HPN 2026. Foto: My. Team.

Di ruangan yang sama, hadir pula Hiero Bokilia selaku Bendahara FJL, Cele Kedang Ketua Panitia HPN 2026, serta Aziz, Ivan, dan Anton.

Usai bergerak menemui sejumlah relasi yang berpotensi mendukung kegiatan pers tersebut, mereka berkumpul kembali di sekretariat.

Secangkir kopi menjadi teman diskusi, pelepas lelah, sekaligus pengikat kebersamaan, Rabu (21/01/2026), aktivitas para jurnalis ini tak hanya sebatas menghadiri konferensi pers.

Di tengah padatnya agenda liputan, mereka tetap meluangkan waktu mempersiapkan rangkaian kegiatan HPN dengan kondisi apa adanya. Prinsipnya sederhana: memanfaatkan apa yang tersedia, tanpa mengurangi kualitas gagasan dan semangat.

Sekretariat FJL sendiri menempati rumah tua milik Stenly Leweheq, wartawan Indonesia Surya. Wartawan bertubuh gempal ini dengan lapang dada mengikhlaskan rumah peninggalan almarhum ayahnya untuk digunakan sebagai sekretariat Forum Jurnalis Lembata.

Rumah itu kini menjadi saksi lahirnya ide, diskusi kritis, dan kerja-kerja sunyi para jurnalis Lembata.

Fasilitas di sekretariat ini jauh dari kata mewah. Tak ada meja kantor atau lemari arsip modern. Sebuah salon—yang biasanya digunakan untuk menyimpan pakaian—disusun di tengah ruangan dan difungsikan sebagai meja kerja bersama.

Meja darurat itu dilengkapi kursi plastik, juga pemberian Stenly, yang setia menopang para jurnalis saat rapat hingga larut. Namun justru dari kesederhanaan itulah, semangat pers Lembata menemukan maknanya.

Di balik laptop uzur, meja salon, dan kursi plastik, para jurnalis ini menegaskan satu hal: kerja jurnalistik tak ditentukan oleh fasilitas, melainkan oleh komitmen, solidaritas, dan keberpihakan pada publik.

HPN 2026 bukan sekadar perayaan, tetapi cermin perjuangan pers daerah yang tetap tegak, meski berdiri di atas keterbatasan.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *